Saya sangat tertarik dengan kutipan Injil  Yohanes 14 : 23 : “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi Dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”  Ketika saya membaca dan merenungkannya, hati saya  merasa gembira dan bersukacita. Hatiku sangat tersentuh dan membayangkan, begitu luar biasa besar kasih Allah Bapa, untuk manusia, untuk aku yang lemah ini, sehingga Dia datang dan tinggal dalam diriku, tinggal bersama aku, tinggal di antara kita. Sungguh, tak dapat dibayangkan, bagaimana besarnya sukacita dalam jiwa saat menyadari kehadiran Tuhan yang nyata dan hidup.

Namun, di sisi lain hatiku  sadar, ada syarat yang mesti dipenuhi. Apa itu? Taat. Taat pada firman-Nya, pada seluruh peraturan, ketetapan, hukum, perintah-perintah-Nya. Dan ketaatan itu, bukan sekadar kepatuhan biasa, yang umumnya dialami oleh kita dalam hidup harian, dalam pekerjaan dan pelayanan. Taat itu bukan sekedar supaya  terjadinya keteraturan dan ketertiban, stabil dan damai. Saya merasakan bukan sekedar itu. Sebuah ketaatan yang dilandasi oleh kasih. Semata-mata karena kasih akan Allah. Sebuah tindakan kasih yang melampaui perasaan mengasihi. Kasih yang lahir dari  iman. Suatu intuisi iman yang melahirkan kasih yang semata-mata untuk mengasihi Allah. Bagiku, Yesus menghendaki demikian, taat karena kasih. Mengasihi karena sungguh mengimani, bahwa Allah penuh kasih. Antara kasih dan ketaatan ini, melahirkan sebuah harapan yang pasti bahwa janji Allah akan tergenapi jika ketaatan yang penuh kasih itu sungguh diwujudnyatakan. Iman yang berpengharapan bahwa  ketika kasih itu mewujud dalam tindakan taat yang penuh kasih, saat itulah Allah datang dan hadir. Allah hadir dan menyertai. Allah berkenan  tinggal di dalamnya.

Merenung saja, tampaknya begitu indah suasana kasih itu. Dan itu adalah kerinduanku.  sama seperti kerinduan semua manusia beriman yang merindukan suasana surga yang kiranya segera mewujud di bumi ini. Dan ternyata, aku disadarkan, bahwa bukan  sekadar kerinduanku yang kadang hilang muncul  tak menentu. Mulanya, adalah kerinduan Allah sendiri, untuk datang, diam bersama-sama dengan manusia di bumi. Hanya kasih, kasih akan Allah, yang menjadi daya tarik satu-satunya akan kehadiran-Nya. Dan kasih itu, bukan seperti yang saat ini sedang kurenungkan, tetapi sebuah tindakan taat karena kasih pada seluruh firman-Nya.

Aku menjadi sedikit sedih, karena sadar, kudapati diriku, banyak kali berwacana dan berniat untuk mengasihi, tetapi pada gilirannya, tidak begitu mudah untuk taat melaksanakan firman-Nya.Betapa kuat lekat dalam diriku, suatu kuasa lain yakni dosa yang menarik aku untuk patuh pada kecenderungan diriku sendiri daripada patuh pada firman-Nya. Sadarlah aku, bahwa tanpa rahmat dan kasih karunia-Nya semata-mata, kasih yang ditawarkan, kasih yang kurenungkan  hanya sebuah kisah atau wacana hampa. Aku akhirnya paham, bahwa, aku sungguh membutuhkan kehadiran Roh Kudus, untuk menolong aku, membimbing  dan memimpin aku di jalan kasih dan kebenaran. Agar kerinduan hatinya, untuk mengalami sukacita saat Dia datang dalm tinggal dalam hatiku terwujud nyata. Hatiku tahu dan sadar, untuk dapat taat, aku harus bertekun dalam harapan dan permohonan kepada Dia, Tuhanku yang telah mewariskan teladan ketaatan yang sempurna, sampai wafat bahkan sampai wafat di kayu salib. Dialah Yesus Kristus, Tuhan dan Juru selamatku. Hanya bagi Dialah, hormat, pujian dan sembah kini dan sepanjang masa.*hm