JUMAT, PEKAN BIASA XVIII, PERINGATAN WAJIB ST. DOMINIKUS
Ul. 4:32-40; Mzm. 77:12-13,14-15,16,21; Mat. 16:24-28

Di hadapan umat, Musa secara jelas dan tegas membeberkan sejarah penyelamatan yang dilakukan oleh Allah bagi bangsa Israel. Sejarah penyelamatan Israel mematri secara amat jelas pengalaman akan kasih Allah. Kasih Allah itu merupakan prakarsa Allah. Israel dipilih dan diselamatkan oleh Allah bukan karena jasa atau kehebatan mereka, tetapi karena belas kasih Allah. Oleh karena itu Israel dituntut untuk membangun sikap taat dan patuh. Sebab, ketaatan dan kepatuhan adalah kunci untuk memelihara hubungan yang erat dan intim dengan Allah. Ketaatan akan mendekatkan Israel pada rencana dan kehendak Allah demi masa depan Israel.

Yesus menuntut secara amat radikal setiap orang yang mau menjadi murid-Nya, mengikuti Dia. Jalan yang harus ditempuh adalah pengingkaran diri dan setia memikul salib. Sebab, hanya melalui jalan dan cara itu setiap murid dapat memahami dan menghayati kehidupan sejati dalam dan bersama Yesus, yaitu kebebasan dan kebahagiaan sejati.

Santo Dominikus adalah contoh pribadi beriman akan kasih setia Allah. Doa kontemplatif melahirkan cinta yang amat dalam. Pada saat itu iman dihadapkan pada situasi perlawanan bidaah atau aliran sesat Albigensianisme yang menolak penjelmaan Kristus karena menganggap hal jasmani sebagai sesuatu yang jahat. Dominikus kemudian mendirikan Ordo para Pengkotbah yang menggabungkan corak hidup kontemplatif dan aktif untuk mewartakan kasih setia Allah.

Bagaimana aku telah memahami sejarah hidupku? Apakah sejarah itu telah mematri secara amat jelas dan tegas pengalaman akan kasih Allah bagiku? Apakah aku siap untuk mengikuti Yesus dalam jalan penyangkalan diri dan setia memikul salib?
Mari bersama Santo Dominikus menelusuri sejarah hidup kita…menemukan dan mengalami kasih Allah bagi hidup kita sehingga kita mampu mengikuti Yesus dalam jalan penyangkalan diri dan setia memikul salib!
Tuhan memberkati. * RD AMT