SENIN, PEKAN BIASA XVII
Kel. 32:15-24,30-34; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Mat. 13:31-35

Kisah pemberian dua loh batu yang berisi perintah Allah menandakan pemberian atau penyingkapan pewahyuan ilahi kepada Israel melalui Musa. Namun, pewahyuan itu ditanggapi dengan penyembahan patung emas buatan manusia. Akhirnya, baik loh batu itu maupun patung berhala itu dihancurkan. Ini pertanda bahwa pewahyuan itu harus ditata lagi karena ketidaksetiaan Israel. Musa harus naik kembali ke gunung Sinai untuk menerima kembali loh batu yang baru. Kisah ini mematri secara amat jelas bahwa Allah selalu membuka kesempatan dan kemungkinan untuk pengampunan dan pembaruan. Israel dituntut untuk menanggapi kesempatan itu melalui pertobatan hati.

Perumpamaan Yesus tentang biji sesawi dan ragi menyadarkan para pengikut-Nya tetang bagaimana transformasi hidup yang bisa terjadi. Mutu perkembangan hidup akan terjadi secara sejati, perlahan namun pasti jika setiap orang beriman mau membuka diri dan membiarkan daya Kerajaan Allah berperan dalam kehidupannya. Oleh karena itu, setiap orang beriman dituntut untuk berpartisipasi dan bertranformasi di dalam daya Kerajaan Allah tersebut.

Bagaimana aku telah mengisi setiap kesempatan yang telah disediakan oleh Allah bagiku? Seperti apa partisipasi dan transformasi diri yang telah aku wujudkan? Sikap iman seperti apa dan bagaimanakah yang telah saya kembangkan?
Mari mengisi setiap kesempatan yang telah disediakan oleh Allah bagi kita. Mari mewujudkan sikap iman kita secara sejati dalam partisipasi dan transformasi diri kita.
Tuhan memberkati. *RD AMT