Superior hendaknya menonjol karena kasih terhadap para susternya, dan kasih ini harus menjadi nyata dalam tindakan-tindakan.

Ia hendaknya menanggung sendiri semua beban seolah-olah untuk meringankan beban para suster. Ia hendaknya tidak menuntut pelayanan apa pun dari mereka, tetapi hendaknya menghormati mereka semua sebagai mempelai Yesus dan selalu siap untuk melayani mereka. siang dan malam. Hendaknya ia lebih minta bantuan daripada memerintah.

Hendaknya hatinya terbuka kepada penderitaan para suster, dan ia sendiri hendaknya menyimak sungguh-sungguh dan belajar dari „Buku yang selalu terbuka”, yakni Yesus yang tersalib. Hendaknya ia dengan khusyuk memohon terang, khususnya ketika ia menghadapi masalah genting dengan seorang suster.

Hendaknya ia menjadi penjaga para susternya, tanpa mencampuri hati nurani mereka karena hanya seorang imam yang memiliki karunia ini. Tetapi dapat terjadi bahwa seorang suster merasa perlu mencurahkan isi hatinya kepada superior, dalam hal ini superior boleh mendengarkan curahan hatinya, tetapi terikat untuk tetap merahasiakannya karena tidak ada sesuatu yang lebih melukai hati seseorang daripada pengalaman bahwa sesuatu yang telah ia katakan secara rahasia dengan penuh kepercayaan dibicarakan dengan orang-orang lain.

Para perempuan biasanya lemah dalam masalah ini; jangan sekali orang menemukan. seorang perempuan dengan pikiran seorang laki-laki. Superior hendaknya mengupayakan kesatuan yang mendalam dengan Allah, dan Allah akan memerintah lewat dia. Bunda kita yang Tersuci akan menjadi superior biara dan kita akan menjadi putri-putrinya yang setia. • BHF 568b

“Bunda kita yang Tersuci akan menjadi superior biara dan kita akan menjadi putri-putrinya yang setia.” Sesudah sekian banyak harapan bagi seorang superior biara yang begitu detail, Faustina mengakhiri dengan tulisan indah yang bagiku adalah yang terbaik dan terpenting: Bunda Maria menjadi superior kita.

Sekali lagi aku bertanya, siapakah yang pantas menjadi superior dengan sekian harapan itu? Maksudku bukan banyaknya kriteria yang harus dipenuhi, tetapi roh cinta kasih yang kiranya harus melingkupi seorang superior. Tanpa cinta kasih, sebaik apa pun seseorang, meski mungkin secara akademis atau kelihatannya unggul dalam memimpin, mengarahkan, mengajar, atau membimbing, rasanya tidak cukup. Sebab tanpa cinta, segala sesuatu sia-sia.

Secara mendalam hari ini Faustina mengajak agar setelah roh iman, roh cinta kasih itulah yang menjadi dasar atas semuanya. Jika seseorang sadar bahwa tidak begitu mudah mencintai orang lain sebagaimana Tuhan mencintai, ada baiknya dia merendahkan diri, bersikap rendah hati, dan mengandalkan Allah. Maksud baik dan kemampuan memimpin tidaklah pernah cukup. Oleh karena itu, setelah sadar akan segala ketidakmampuan untuk mengasihi sebagaimana Allah mengasihi, seseorang harus menaruh segala harapannya pada Allah. Roh harapanlah yang harus melingkupi jiwanya: selalu berharap yang baik terhadap dirinya juga terhadap setiap jiwa yang dipercayakan kepadanya.

Akhirnya bagiku, menjadi pemimpin itu pertama-tama adalah menerima dan mengembangkan karunia iman, harapan, dan cinta. Dengan tiga keutamaan ini dia baru dapat bekerja sama dengan rahmat Allah, dan dalam semangat yang sama dia boleh diperkenankan mendampingi jiwa-jiwa dalam iman, harapan, dan cinta. Jika demikian, dan memang demikian adanya yang aku pahami dalam seluruh konteks kepemimpinan kristiani, terutama dalam biara, maka hal-hal praktis boleh dilaksanakan. Namun, jika yang mendasar ini tidak menjadi landasan utama, tidaklah begitu mudah. Siapakah kita ini yang layak untuk memimpin? Aku ingat banyak tokoh dalam Perjanjian Lama, mulai dari Musa yang merasa begitu kecil dan ragu, Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel.

Sungguh, hanya Bunda Maria yang ketika dipilih Allah jawabannya adalah Fiat: “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Hanya seorang yang siap menjadi hamba, rela menghambakan dirinya serendah-rendahnya, yang kiranya dapat memenuhi semua harapan yang ditulis Faustina dalam SKR hari ini. Tampak mustahil, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Merenungkan semua ini, aku sangat sadar sejak dahulu kala bahwa dalam banyak hal aku tidak pantas, sebab begitu kecil dan lemahnya iman, harapan, dan kasihku kepada Tuhan dan sesama. Maka aku bersekolah di SKR ini untuk belajar dari Faustina bagaimana dia dapat memimpin banyak jiwa, padahal tidak pernah dipilih menjadi pemimpin selama hidupnya.

Dalam biara kami KKS ada tradisi dan doa indah yang setiap malam kami doakan, yakni penyerahan diri kepada Keluarga Kudus: Yesus, Maria, dan Yusuf yang menjadi teladan hidup kami. Dalam doa itu ada sebuah pengakuan dan penyerahan diri bahwa Yesus adalah Kepala keluarga kami. Dialah Superior kami, bersama Bunda Maria dan Bapa Yusuf. Jika demikian, siapakah kita ini? Semua pemimpin yang terpilih untuk masa tertentu, dan semua anggota, sesungguhnya adalah putra-putri-Nya, hamba-hamba Allah.

Jika kurenungkan lebih dalam, aku menemukan bahwa sekolah terindah adalah SKR ini bersama Faustina, sebab di dalamnya kita belajar mengasihi Allah dan jiwa-jiwa. Karena betapa tidak mudahnya mengasihi. Dan bagaimana mungkin semua masih bisa hidup dalam biara sampai saat ini, masih bertahan juga dalam keluarga, komunitas, dan organisasi? Aku menemukan jawaban yang indah: semua karena kuasa kasih dan Kerahiman Allah yang tetap menyertai, membimbing, dan membuat kita tetap hidup. Terpujilah Sang Kerahiman Ilahi, Allah Tritunggal Mahakudus, selamanya. Amin. Yesus, Engkau andalanku.