Hubungan Superior dengan Para Suster
Superior hendaknya menonjol dalam kerendahan hati dan kasih kepada setiap suster tanpa membeda-bedakan. Ia tidak boleh membiarkan diri dikendalikan oleh sikap suka dan tidak suka, tetapi oleh semangat Kristus sendiri. Hendaknya ia sadar bahwa Allah akan menuntut pertanggungjawaban darinya mengenai setiap suster. Ia hendaknya tidak sok moralis terhadap para suster, tetapi lebih baik memberi mereka suatu teladan kerendahan hati dan penyangkalan diri yang mendalam; ini akan menjadi pelajaran yang paling manjur yang dapat ia berikan. Ia hendaknya tegas, tetapi tidak pernah kasar. Ia hendaknya sabar kalau merasa bosan karena menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kalaupun ia harus memberikan jawaban yang sama seratus kali lebih, ia hendaknya melakukannya dengan sikap yang sama. Hendaknya ia berusaha mengantisipasi kebutuhan para suster daripada menunggu sampai mereka meminta ini atau itu karena keterbukaan hati orang sangat beragam.

Kalau superior itu tahu bahwa seorang suster sedang bersedih atau menderita, ia hendaknya berusaha dengan cara apa pun untuk menolong dan menghiburnya. Ia hendaknya banyak berdoa dan memohon terang supaya dapat mengetahui bagaimana menyikapi setiap suster karena setiap jiwa merupakan suatu dunia tersendiri. Allah memiliki beragam cara untuk berkomunikasi dengan jiwa-jiwa, dan cara itu sering kali melampaui pengertian atau perhatian kita. Oleh karena itu superior hendaknya berhati-hati, jangan sampai ia menghalangi tindakan Allah dalam suatu jiwa. Hendaknya ia tidak pernah menegur seorang suster kalau ia merasa jengkel. Lebih baik teguran-teguran selalu dipadukan dengan pemberian dorongon. Orang harus dibantu untuk menyadari dan mengakui kesalahannya, tetapi hendaknya ia tidak dihancurkan.• BHF 568a.

Setiap jiwa merupakan suatu dunia tersendiri. Allah memiliki beragam cara untuk berkomunikasi dengan jiwa-jiwa, dan cara itu sering kali melampaui pengertian atau perhatian kita.” Tampaknya begitu banyak kriteria disposisi batin seorang superior dalam relasi dengan para suster. Siapakah yang begitu sempurna? Tentu tidak ada namun yang dipaparkan Faustina bagiku amat indah. Faustina mengingatkan bahwa setiap jiwa adalah ciptaan Allah yang unik, indah, dan baik adanya. Bahwa Allah memiliki beragam cara untuk berelasi dengan jiwa-jiwa. Indah. Dari kisah tentang para superior, dibawa masuk untuk merenung yang lebih dalam, betapa Allah begitu amat baik, penuh kasih kepada setiap ciptaan-Nya, anak-anak pilihan-Nya.

Setiap jiwa unik, berharga di mata Tuhan. Tidak ada satu pun yang sama. Masing-masing memiliki kisah hidup, luka, pergulatan, harapan. Cara Allah berkarya dalam hidup mereka juga berbeda-beda.
Mungkin karena itulah Faustina mengatakan bahwa Allah memiliki beragam cara untuk berkomunikasi dengan jiwa-jiwa. Allah tidak memperlakukan anak-anak-Nya secara seragam. Ia mengenal setiap isi hati secara pribadi. Tak ada satu pun yang tersembunyi. Ia tahu kapan perlu menghibur, menegur, menunggu, menguatkan, mendorong atau memanggil seseorang untuk melangkah lebih jauh atau berjalan lebih dekat dengan-Nya. Kasih Allah dan kesabaran-Nya tak terbatas, Allah memelihara khazanah iman, kasih, dan pengharapan di dalam hati setiap anak yang dipilih-Nya.

Dengan cara yang sama, Allah juga menghendaki agar aku memperlakukan sesama, sebagaimana Allah mengasihi dan memperlakukanku, yang sabar menunggu dan memberi kesempatan. Aku bukan seorang pemimpin rohani yang secara khusus dipilih untuk membimbing banyak jiwa. Namun seluruh perjalanan hidupku tidak pernah lepas dari hidup bersama, bekerja dan berkarya bersama orang lain, saling mendukung, dan saling membangun. Di sanalah aku dipanggil untuk belajar menghargai setiap pribadi sebagaimana Allah menghargainya.

Sering kali aku tidak sabar. Dalam banyak hal tanpa kusadari, aku memakai ukuranku sendiri untuk menilai keberhasilan, pertumbuhan, perubahan, bahkan perkembangan orang lain. Aku ingin mereka bertumbuh menurut caraku, berubah menurut target waktuku, dan memahami seperti pikiranku. Aku lupa kalau Allah mempunyai jalan-Nya sendiri. Karena setiap jiwa merupakan suatu dunia tersendiri. Allah menuntun setiap jiwa dengan cara tersendiri yang hanya Dua sendiri yang tahu, namun semua diarahkan kepada kebaikan, kebenaran, dan cinta. Tidak ada satu pun yang kurang dikasihi-Nya. Semua dicintai dengan kasih yang utuh dan murni.

Barangkali karena itulah, ketika Allah mempercayakan seseorang menjadi pemimpin, bukan pertama-tama karena ia lebih layak, lebih pandai, atau lebih hebat daripada yang lain. Mungkin Allah melihat disposisi batinnya, kesediaannya untuk bekerja sama dengan rahmat-Nya, agar melalui dirinya kasih Allah semakin nyata bagi anak-anak-Nya. Seorang pemimpin rohani tidak pernah dapat dipisahkan dari Allah. Ia hanyalah alat di tangan Tuhan. Yang dipercayakan kepadanya bukan barang atau benda mati, melainkan manusia, jiwa-jiwa yang begitu berharga di mata Tuhan. Jiwa-jiwa yang penuh dinamika.

Renungan hari ini membuat aku juga semakin sadar bahwa jika sampai hari ini aku menjadi seperti sekarang, semua itu tidak lepas dari begitu banyak tangan yang dipakai Allah untuk membentukku. Ada para pemimpin, pembesar, pendidik, pembimbing, dan begitu banyak orang baik yang hadir pada masanya, dengan caranya masing-masing, sesuai waktu Tuhan yang selalu tepat. Melalui mereka, Allah dengan sabar menuntun langkah demi langkah perjalanan hidupku yang merupakan suatu dunia tersendiri. Mungkin di masa lalu aku tidak selalu mengerti, pernah ditegur, dibentuk, atau diarahkan terlalu keras. Namun kini aku melihat semuanya dengan rasa syukur. Sungguh-sungguh bersyukur. Saya tak dapat membayangkan, jika kepadaku diperlakukan sama dengan yang lain, apa jadinya aku hari ini? Aku ingat, kalau hari ini aku bisa ada di SKR, salah satunya karena aku diperlakukan dan diberi kesempatan sesuai dengan duniaku.

Di balik setiap pribadi pemimpin yang pernah hadir dalam hidupku, Allah sedang bekerja membentukku menjadi seperti yang dikehendaki-Nya, bahkan aku sendiri tidak sadar seperti apa jadinya. Aku akan terus bertumbuh sampai usai usiaku.

Aku diingatkan betapa pentingnya mendoakan para pemimpin, para pembimbing, para pendidik, dan siapa pun yang dipercayakan Allah untuk membina jiwa-jiwa. Mereka memikul tugas yang tidak ringan untuk mendampingi anak-anak Allah yang masing-masing merupakan dunia yang unik. Semoga Allah sendiri senantiasa memberi mereka terang, kebijaksanaan, kesabaran, dan kasih, agar melalui hidup mereka semakin banyak jiwa bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan cinta. Dan aku, belajar menjadi anak manis yang penuh iman menerima arahan, petunjuk, nasihat dan teladan kasih dari Tuhan melalui para superiorku. Yesus, Engkau andalanku.