Para suster akan menyapa superior sebagai berikut: “Dengan perkenanmu (dalam bahasa Polandia: proszę Siostry Przełożonej yang searti dengan Permisi, Suster Superior*). Mereka tidak pernah boleh mencium tangannya, tetapi kapan saja mereka berjumpa dengan dia di lorong biara atau ketika masuk ke kamarnya, mereka hendaknya berkata, „Terpujilah Yesus Kristus”, sambil menundukkan kepala sedikit.

Mereka hendaknya menyapa satu sama lain dengan sebutan „Suster” dengan menambahkan nama pribadi. Hubungan mereka dengan superior hendaknya ditandai dengan roh iman dan bukan dengan perasaan sentimental atau sanjung-rayu karena ini semua tidak pantas untuk seorang biarawati dan akan sangat menurunkan martabatnya. Seorang biarawati hendaknya leluasa seperti seorang ratu, dan ia hanya dapat bersikap demikian kalau ia hidup dalam semangat iman.

Hendaknya kita patuh dan hormat kepada superior. bukan karena ia itu baik, suci, atau bijaksana, tetapi hanya karena ia menjadi wakil Allah, dan dengan mematuhi dia, kita mematuhi Allah sendiri. • BHF 567b

“Dengan mematuhi dia, kita mematuhi Allah sendiri.” Aku sangat tertarik dengan pernyataan Faustina yang merupakan puncak dari pengajaran sekaligus penghayatan Faustina tentang ketaatan. “Hendaknya kita patuh dan hormat kepada superior, bukan karena ia itu baik, suci, atau bijaksana, tetapi hanya karena ia menjadi wakil Allah, dan dengan mematuhi dia, kita mematuhi Allah sendiri.” Dengan ini mau dikatakan bahwa ketaatan tidak boleh berhenti pada pribadi yang memberi perintah, tetapi kiranya merupakan persembahan kepada Allah sendiri. Apa yang dipersembahkan? Kehendak dan kemauan sendiri agar dapat mengenal, melaksanakan kehendak Allah.

Nilai sebuah ketaatan bukan pertama-tama ditentukan oleh siapa yang memimpin, yang memberikan tugas, melainkan kepada siapa ketaatan itu dipersembahkan. Jika aku taat hanya karena pemimpinku baik, bijaksana, atau kusukai, maka ketaatanku masih bergantung pada manusia. Namun, jika aku patuh, taat karena Allah, maka setiap tindakan ketaatan menjadi persembahan kasih kepada Allah dan memuliakan-Nya. Bukankah seluruh hidup orang beriman memang selayaknya diarahkan kepada satu tujuan yakni demi kemuliaan Allah? Segala yang dilakukan, sekecil apa pun, memperoleh makna ketika dipersembahkan kepada-Nya. Demikian pula ketaatan kepada superior/pembesar/pemimpin.

Persembahan kehendak mesti melampaui sekedar taat dengan sukarela dan sukacita. Menjadi sebuah ujian iman, saat tahu sesuatu yang baik, kita mengingininya, tetapi tidak dapat melakukannya karena dibatasi oleh ketaatan. Kita dapat berpikir dan menduga kalau para superior kurang bijaksana. Namun, jika diterima dengan rela hati bahwa meski pun bisa, tak dapat menghendaki sendiri karena sudah sejak awal dipersembahkan kepada Allah. Benar, mematuhi mereka adalah mematuhi Allah. Ketaatan jenis ini memang semata-mata mengandalkan roh iman. Tanpa iman, penyerahan diri, akan sulit taat. Tindakan sebaik apa pun hanya berputar-putar dengan sentralnya adalah diri sendiri. Tidak mudah, apalagi masa sekarang ini, yang begitu mengagungkan kebebasan mengekspresikan diri.

Dalam banyak pengalaman hidup membiara bertahun-tahun, saya merasakan bahwa proses ketaatan itu memiliki dinamika seiring pertumbuhan iman. Semakin mengandalkan Allah, semakin pikiran, hati dimurnikan, pandangan sedikit demi sedikit lebih jernih, dimampukan pula untuk pelan-pelan lepas bebas. Dapat menemukan pemaknaan rohani dan imani dalam peristiwa hidup, dalam keputusan yang diambil. Ya…tidak ada satu pun yang layak dipertahankan, digenggam, apalagi diperjuangkan mati-matian. Semua untuk Tuhan. Tidak ada gunanya melawan, memberontak, mencela, menghakimi sebab umumnya kita tidak tahu apa yang Tuhan ingin  nyatakan kepada kita melalui mereka..Ketaatan selalu menyelamatkan..

Di balik kepatuhan dan ketaatan pada pimpinan yang dipandang sebagai wakil Allah, para superior juga memiliki tanggung jawab dan pergumulan untuk sungguh-sungguh bergaul karib dengan Tuhan, berdiskresi dengan jernih dalam bimbingan kuasa Roh Kudus, sebab setiap keputusan mereka adalah ‘suara Tuhan’. Dibutuhkan kerendahan hati yang mendalam, jiwa besar, dan keberanian iman.

Puji Tuhan yang maha rahim atas kasih dan kebaikan-Nya, yang ikut serta melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Saya percaya, yang mengandalkan Tuhan, percaya pada-Nya tidak akan dikecewakan. Tuhan pun melindungi, menjaga, menyertai orang-orang pilihan-Nya yang dipercayakan untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya. Senantiasa berdoa untuk mereka juga sebuah sikap kepatuhan iman.

Hari ini aku merenung, kepada siapakah sebenarnya aku mempersembahkan ketaatanku? Semoga setiap keputusan, setiap pengorbanan, dan setiap bentuk ketaatan dalam hidupku sungguh menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah. Sebab segala sesuatu berasal dari Dia, berlangsung oleh Dia, dan kembali kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. (Rm 11:36).
Yesus, Engkau andalanku.