15 Desember 1935. Hari ini, sejak pagi buta, suatu kekuatan yang aneh telah mendorongku untuk bertindak, tanpa memberikan kesempatan sedikit pun kepadaku untuk merasa tenang.

Telah dinyalakan di dalam hatiku suatu semangat yang aneh, yang mendesak aku untuk bertindak, dan aku tidak dapat mengendalikanya. Inilah suatu kemartiran tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah, tetapi biarlah Ia bertindak atasku seperti yang dikehendaki oleh Hati-Nya. Hatiku sudah siap untuk apa saja.

Ya Yesus, Guruku yang terkasih, jangan meninggalkan aku, sedikit pun jangan. Yesus, Engkau tahu dengan baik lemahnya aku. Itulah sebabnya aku tahu bahwa kelemahankulah yang memaksa Engkau untuk terus-menerus menyertai aku. • BHF 569

“Yesus, Engkau tahu dengan baik lemahnya aku. Itulah sebabnya aku tahu bahwa kelemahankulah yang memaksa Engkau untuk terus-menerus menyertai aku.” Kalimat ini sungguh menyentuh hatiku. Faustina begitu sadar akan kelemahannya. Ia tahu bahwa dirinya tidak sanggup melakukan semuanya dengan kekuatannya sendiri. Namun, menariknya, ia tidak berhenti, tidak menyerah, tidak berkeluh kesah, juga tidak mengundurkan diri. Justru kesadaran akan kelemahannya membuat ia semakin mengandalkan Yesus.

Bagiku, kalimat yang paling indah adalah ini: “Kelemahankulah yang memaksa Engkau untuk terus-menerus menyertai aku.” Sungguh luar biasa. Inilah keberanian iman. Faustina sadar bahwa ia tidak mampu, tetapi ia juga tahu kepada siapa ia berharap. Seolah-olah ia berkata, “Tuhan, aku mau, tetapi aku tidak bisa. Engkau sendiri yang mengurus semuanya.” Aku melihat diriku sendiri. Ketika merasa lemah, aku kadang berkeluh kesah, berseru agar Tuhan segera menolong, mencari berbagai jalan dengan kekuatanku sendiri, atau bahkan ingin mundur sambil berkata, “Tuhan, aku tidak mampu. Pilihlah orang lain yang lebih pantas, lebih baik, dan lebih mampu.”

Faustina ingatkan aku bahwa justru semakin aku lemah, semakin aku harus merapat kepada Tuhan. Bukankah Tuhan sudah mengetahui semuanya? Ia tahu kelemahanku, bahkan sebelum sadar dan mengakuinya. Ia tahu apa yang sedang dikerjakan-Nya dalam hidupku. Bagianku adalah percaya dan mengandalkan Dia.

Inilah model iman yang diajarkan Faustina kepadaku: mengandalkan Tuhan dengan tenang, penuh penyerahan diri, tanpa kehilangan harapan. Sebab benar, kuasa Tuhan bekerja dengan sempurna justru di dalam kelemahan manusia. Aku rindu memiliki hati seperti Faustina, hati yang tetap tenang dalam menanggapi setiap panggilan Tuhan karena yakin bahwa “justru dalam kelemahanlah kuasa-Mu menjadi sempurna.”

Hati tenang, teduh, merenung SKR hari ini, rasanya luar biasa kebaikan Tuhan yg berlimpah luar. Besar kemahakuasaan kasih-Nya tak terbatas…kelemahanku pun tak diperhitungkan-Nya..malah memaksa-Nya semakin melakukan segalanya. Mestinya aku juga demikian saat berhadapan dengan kelemahan dan kerapuhan jiwa-jiwa. Seperti Tuhan menolongku demikian juga aku. Aku makin mengerti Sabda Yesus..Hendaknya kamu murah hati seperti Bapa-Mu murah hati. Yesus, Engkau andalanku. Yesus, ajarlah aku untuk tidak takut akan kelemahanku, sebab di sanalah Engkau memilih tinggal dan berkarya. Engkau andalanku.