Kamis. Adorasi Malam. Ketika aku datang untuk adorasi, suatu perenungan batin langsung menguasai aku, dan aku melihat Tuhan Yesus terikat pada suatu tiang, dilucuti dari pakaian-Nya, dan seketika itu juga Ia mulai didera. Aku melihat empat laki-laki yang secara bergilir mendera Tuhan dengan cambuk-cambuknya. Jantungku hampir berhenti berdenyut menyaksikan penyiksaan itu.
Tuhan berkata kepadaku, Aku menderita siksaan yang bahkan lebih pedih daripada yang engkau saksikan. Dan Yesus memberitahukan kepadaku demi dosa-dosa macam apa Ia rela menyerahkan diri-Nya untuk didera, yakni dosa melawan kemurnian. Oh, betapa mengerikan penderitaan moral Yesus selama Ia didera.
Kemudian, Yesus berkata kepadaku, Pandanglah dan lihatlah bangsa manusia dalam keadaannya yang sekarang. Seketika itu juga aku melihat hal-hal yang mengerikan: para algojo meninggalkan Yesus, dan orang lain mulai mendera Dia; mereka menimpakan deraan-deraan kejam dan memukuli Tuhan dengan tanpa belas kasihan. Mereka ini adalah para imam, biarawan dan biarawati. dan para pejabat tertinggi Gereja; semua ini membuat aku sangat tercengang. (BHF 445a)
Membaca dan merenung SKR hari ini, aku tertunduk malu karena merasa namaku disebut. Faustina mengisahkan bahwa dengan jelas ia melihat hal yang sangat mengerikan, yakni setelah para algojo meninggalkan Yesus, orang lain juga mulai mendera Yesus dengan deraan kejam dan memukuli tanpa belas kasihan. Siapakah mereka? Para imam, biarawan dan biarawati, para pejabat tinggi Gereja.
Aku begitu malu ketika namaku disebut: biarawati. Dosa apa itu? Dosa melawan kemurnian. Kemurnian yang aku pahami tidak sekadar kemurnian badani dalam arti tidak kawin, hidup selibat. Lebih dari itu: kemurnian hati, kemurnian batin. Hati yang tidak terbagi, yang total dan utuh kepada Tuhan. Yang mengakui dan mengimani, mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap budi, segenap jiwa, segenap tenaga, dan segenap kekuatan.
Namun realitanya? Nyaris tak satu pun yang sungguh-sungguh dan segenap hati. Masih selalu ada yang disimpan, disisihkan, disembunyikan untuk diri sendiri. Mengutamakan hal-hal duniawi, meskipun itu memang sangat dibutuhkan di dunia ini. Namun jika pikiran, waktu, tenaga lebih banyak diprioritaskan untuk pemenuhannya, sesungguhnya hati belum sungguh murni mengasihi Tuhan.
Ada yang begitu haus akan kuasa, jabatan, gelar, tahta, yang mengarah pada dirinya sendiri, agar dihormati, dipuji, diberi tempat istimewa oleh orang-orang. Bukankah ini juga merupakan bagian dari ketidakmurnian hati?
Ketika tantangan, penderitaan, sakit penyakit mendera, ada yang lambat mencari Tuhan, tetapi lebih dahulu mencari ahli-ahli, bahkan orang pintar. Banyak yang belum sungguh percaya dan yakin akan kemahakuasaan dan kasih Allah. Mereka berani menempuh perjalanan jauh, rela menghabiskan banyak uang, bahkan berani melakukan syarat-syarat yang tidak masuk akal demi mempertahankan atau memperpanjang hidup yang fana ini, namun mengesampingkan Tuhan. Bukankah ini juga termasuk bagian dari ketidakmurnian hati? Barangkali ini terlalu jauh untuk ditulis di sini, namun nyatanya ada.
Yang paling sederhana, dosa-dosa melawan kemurnian itu adalah ketidakmampuan untuk sungguh-sungguh mengasihi sesama, yang dilihat, dijumpai setiap hari. Kemarahan dan dendam, iri hati dan dengki, melakukan perbuatan tercela, merencanakan yang jahat terhadap sesama, keras hati tidak mau mengampuni, merampas hak orang miskin, membebani orang lemah dan orang kecil dengan pekerjaan yang melampaui batas, menelantarkan orang sakit dan dalam penjaran, penipuan dan dusta, euthanasia, dan masih banyak lagi. Bukankah ini merupakan bagian dari ketidakmurnian hati? Sebab dari hati lahir semua hal yang jahat dan menajiskan orang lain. Imam, biarawan/wati, pejabat Gereja—sudah berjanji dengan sungguh-sungguh, namun begitu mudah dan seringnya melanggar yang menajiskan dan menodai pikiran, tubuh, dan jiwa.
Yang lebih sering dilihat dan dipahami masih sekadar kesucian tubuh/fisik yang berkaitan dengan seksualitas yang merugikan diri sendiri dan orang lain serta mendukakan Roh Kudus Allah dan menyakiti hati Tuhan. Padahal ada dosa-dosa yang lebih dari itu yang menodai kesucian hati dan membuat Tuhan menderita sampai saat ini. Nyata bahwa ketika indra dan hati ternoda, tubuh dan hidup juga semuanya ternoda. Diri ternoda, sesama ternoda, lingkungan ternoda, Gereja ternoda, dunia ternoda. Semua karena dosa.
Aku ngeri membayangkan betapa hampir setiap saat aku mendera Tuhan Yesus dengan pikiran, hati, perkataan, dan perbuatanku yang keluar tanpa cinta; yang menodai hidup sesama dan diriku sendiri. Belum lagi yang menodai lingkungan alam sekitar sebagai “rumah kita bersama” yang dirugikan.Deraan itu makin hari makin hebat terhadap Yesus, dan penderitaan-Nya tak habis-habisnya. Sungguh-sungguh menyedihkan.
Sampai di sini aku semakin mengerti mengapa begitu perlunya bertobat dan memperbarui diri hari demi hari. Mengapa selalu harus bersyukur. Bukankah meski seperti itu, begitu menyakitkan dan melukai hati Tuhan—bahkan tanpa sadar atau bahkan dengan sengaja—aku masih diberi hidup?
Aku makin mengerti betapa indahnya Gereja Katolik dengan ketujuh sakramen dan masa-masa liturgi Gereja yang sangat membantu umat Allah untuk merenung dan masuk dalam misteri kasih-Nya. Seperti masa Prapaskah ini, yang secara khusus disediakan Gereja untuk membenamkan diri dalam perenungan kisah sengsara Yesus.
Sekarang aku makin memahami tentang misteri Kerahiman Ilahi. Sungguh-sungguh anugerah bisa mengenal, mengerti, dan menjadi bagian dari devosi Kerahiman Ilahi.
Sekarang aku mengerti mengapa Faustina dengan rela hati mempersembahkan diri kepada Tuhan untuk menjadi rasul Kerahiman Ilahi. Aku mengerti mengapa setiap hari pada jam Kerahiman sangat perlu merenungkan sengsara Tuhan, membenamkan diri dengan sungguh-sungguh dan penuh iman dalam samudera Kerahiman Ilahi. Semua menjadi jelas bagiku. Sangat jelas bahwa semua itu untuk keselamatanku. Berbahagialah yang mengerti dan melakukannya.
Melihat dan memandang realitas diriku dan duniaku, aku sadar betapa dunia ini sungguh ternoda oleh dosa—tidak sekadar ternoda, tetapi sungguh gelap, hitam, kelam, seolah tidak ada terang. Tetapi syukur kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang panjang sabar dan penuh kasih setia. Yang karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini telah menganugerahkan Putra-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal (Yoh 3:16).Dan ini adalah anugerah besar yang tak tergantikan.
Ya… aku disapa secara istimewa. Setelah tertunduk malu, aku harus mengangkat mukaku, mengangkat kepalaku, sebab keselamatan dari Allah untukku sangat dekat padaku, yang terangkum dalam misteri kasih kerahiman-Nya.
Janji-Nya adalah kepastian bagi yang berpaling kepada Kerahiman-Nya, bahkan hanya dengan mendoakan satu kali Koronka Kerahiman Ilahi saja yang diimani dengan penuh iman. Atau kepada yang diperdengarkan doa sakti ini, semua menjadi mungkin.Karena Allah maha rahim.
Oh Tuhanku dan Allahku, betapa beruntungnya aku mengenal kuasa kerahiman-Mu.
Aku rindu ingin membawa banyak jiwa kepada-Mu agar semakin mengenal kerahiman-Mu, meski aku sendiri begitu banyak dosa dan papa. Aku percaya, sungguh-sungguh percaya, Engkau tidak memperhatikan dan memperhitungkan dosaku, tetapi imanku untuk selalu mengandalkan-Mu sudah sangat menyenangkan-Mu.Kasihanilah dan ampunilah aku. Sembuhkan aku karena aku telah berdosa terhadap-Mu.Pakailah aku sebagai alat-Mu untuk mewartakan dan menjadi saksi kerahiman-Mu dalam hidupku. Aku akan memuji dan memuliakan kerahiman-Mu dengan segenap kemampuanku.
Sungguh, Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments