Hari ini, ketika aku mengenang genap dua puluh sembilan tahun sejak mengucapkan profesi pertamaku sebagai Suster Dina Keluarga Kudus (KKS), pikiranku tiba-tiba kembali melayang jauh ke masa awal panggilan. Bukan kepada peristiwa-peristiwa besar. Bukan pula kepada hari profesi atau saat menerima tugas perutusan. Yang justru hadir dalam ingatanku adalah sebuah doa yang sangat sederhana. Doa yang setiap hari kami ucapkan bersama.
Aku masih ingat dengan jelas. Tanggal 25 April 1993, untuk pertama kalinya aku melangkahkan kaki ke rumah pembinaan. Semuanya terasa baru. Wajah-wajah baru, irama hidup yang baru, jadwal yang baru, bahkan doa-doa yang sebelumnya belum pernah kudengar. Di antara sekian banyak doa itu, ada satu doa yang perlahan mulai akrab di telingaku.“Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga dengan kebajikan yang tak terperikan, berilah agar kami selalu mengikuti teladan Keluarga-Mu yang Suci. Amin.”
Pada mulanya aku hanya mendengarkan. Lalu aku mulai mengikuti. Beberapa hari kemudian aku sudah dapat menghafalnya. Sejak saat itu doa ini menjadi bagian dari hidupku. Kami mendoakannya sebelum makan. Kami mengucapkannya setiap kali mengakhiri doa-doa bersama. Doa itu juga menutup hari kami sebelum beristirahat. Hampir tidak ada hari tanpa doa ini.
Demikian terus berlangsung. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Dan tanpa terasa, puluhan tahun berlalu.Hari ini aku mencoba berhenti sejenak dan menghitung. Bukan hanya dua puluh sembilan tahun profesi yang telah kulewati. Melainkan seluruh perjalanan sejak hari pertama aku memasuki rumah pembinaan pada tanggal 25 April 1993.
Sudah berapa ribu kali doa itu terucap? Aku sendiri tidak mampu menghitungnya. Mungkin belasan ribu kali. Mungkin lebih.Anehnya, justru karena terlalu sering diucapkan, doa itu hampir menjadi seperti napas: selalu hadir, tetapi jarang benar-benar kusadari. Bibirku mengucapkannya. Telingaku mendengarnya. Namun hatiku tidak selalu sempat menangkap kedalaman maknanya.
Baru beberapa hari ini, ketika mengenang perjalanan panggilanku, hatiku tiba-tiba tergerak untuk berhenti pada doa yang sangat sederhana itu. Aku membacanya perlahan. Kata demi kata. Lalu muncul sebuah kesadaran yang membuatku terdiam. Selama ini aku mengira akulah yang setia mendoakan doa itu. Namun sekarang aku justru merasa sebaliknya. Mungkin selama ini, doa itulah yang diam-diam menjaga kesetiaanku.
Doa itu hadir setiap hari, bahkan ketika aku sedang bersemangat maupun ketika aku merasa lelah. Ia tetap diucapkan ketika hidup terasa ringan, maupun ketika panggilan terasa berat. Ia tetap terdengar ketika aku mengerti kehendak Tuhan, maupun ketika aku harus berjalan dalam banyak pertanyaan. Tanpa kusadari, doa itu perlahan membentuk cara pandangku, mengarahkan langkahku, dan terus mengingatkanku akan identitas panggilanku sebagai seorang KKS.
pada hari ini, aku ingin kembali menyelami doa yang selama puluhan tahun telah menjadi bagian dari hidupku. Barangkali, seperti diriku, masih banyak di antara kita yang telah begitu akrab mengucapkannya, tetapi belum sungguh berhenti untuk mendengarkan apa yang ingin Tuhan katakan melalui setiap kalimatnya. Sebab sesungguhnya, doa-doa yang paling sering kita ucapkan justru sering menjadi doa-doa yang paling sedikit kita renungkan. Dan mungkin, di sanalah Tuhan diam-diam bekerja. “Tuhan Yesus Kristus yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga dengan kebajikan yang tidak terperikan, berilah agar kami selalu mengikuti teladan keluarga-Mu yang suci, AMIN.
Recent Comments