Tuhan Yesus Kristus yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga dengan rahmat yang tidak terperikan berilah agar kami selalu mengikuti teladan keluarga-Mu yang suci, Amin.
“Tuhan Yesus Kristus…” Perjalanan doa harian KKS dimulai bukan dengan sebuah permohonan, bukan pula dengan sebuah cita-cita atau tekad manusia. Ia memulai dengan menyebut sebuah Nama. “Tuhan Yesus Kristus.” Ini bukan sekadar tiga kata pembuka. Ini adalah sapaan kepada seorang Pribadi yang hidup. Pribadi yang kita kenal. Pribadi yang lebih dahulu mengenal kita. Pribadi yang memanggil, membimbing, menopang, dan setia berjalan bersama kita sepanjang perjalanan panggilan.
Doa ini mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar. Sebelum kita berbicara tentang keluarga, tentang rahmat, tentang teladan, ba hkan sebelum kita memohon rahmat untuk setia, Kongregasi terlebih dahulu mengajak kita untuk melompat bersama Yesus. Sebab seluruh hidup KKS berawal dari Dia. Bukan dari sebuah karya. Bukan dari sebuah aturan. Bukan dari sebuah komunitas. Bahkan bukan pula dari semangat untuk melayani. Semuanya berawal dari hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus.
Betapa bijaksananya para perintis Kongregasi meletakkan nama Yesus di awal doa ini. Mereka seakan ingin mengingatkan setiap generasi KKS bahwa seruan umat beragama tidak akan pernah boleh kehilangan pusatnya. Seorang suster dapat mengajar dengan baik. Ia dapat memimpin komunitas dengan bijaksana. Ia dapat berkarya tanpa mengenal lelah. Ia dapat dipercaya memegang berbagai tanggung jawab. Namun bila hubungan pribadinya dengan Kristus mulai memudar, perlahan-lahan semuanya akan kehilangan jiwa. Karya tetap berjalan. Tugas tetap. terselesaikan Jadwal tetap terpenuhi. Tetapi panggilan kegembiraan mulai berkurang. Karena sumbernya mulai terlupakan.
Mungkin inilah alasan doa harian KKS tidak langsung mengajak kita meminta sesuatu kepada Tuhan.Ia terlebih dahulu mengajak kita memandang wajah-Nya. Mengucapkan nama-Nya. Menyadari kehadiran-Nya. Lalu dari hadapannya, seluruh doa itu mengalir. Semakin lama aku menghayati hidup membiara, semakin kusadari bahwa kesetiaan ternyata bukan yang pertama-tama soal bertahan selama puluhan tahun. Kesetiaan adalah kesediaan untuk terus kembali kepada Pribadi yang sama. Kepada Tuhan Yesus Kristus. Setiap pagi, siang dan malam. Hari demi hari. Tahun demi tahun yang terus berlalu dan pergi.
Mungkin karena itulah nama-Nya selalu menjadi kata pertama yang kami ucapkan. Bukan karena kebiasaan. Melainkan karena Dialah alasan kami berada di sini. Dialah Yesus Kristus Tuhan kita. Dialah yang memanggil kami meninggalkan rumah. Dialah yang mempersatukan kami dalam Kongregasi. Dialah yang mengutus kami melayani keluarga, anak-anak, orang miskin, dan Gereja. Dan hanya bila mata hati tetap mengirimkannya kepada-Nya, kami akan mampu tetap setia sampai akhir.
Ketika menguraikan bagian pertama doa ini, saya teringat akan kisah Injil ketika Yesus memanggil para murid di tepi danau. Ia tidak lebih dahulu menjelaskan ke mana mereka akan dikalahkan, tantangan apa yang akan mereka hadapi, atau keberhasilan apa yang akan mereka capai. Ia hanya berkata, “Ikutlah Aku.” Segala sesuatu yang lain menyusul kemudian.
Demikian pula doa harian KKS. Ia tidak memulai dengan tugas. Ia dimulai dengan Pribadi. Karena sebelum Tuhan memberikan sebuah perutusan, Ia terlebih dahulu memberikan diri-Nya sendiri. Barangkali inilah rahmat pertama yang tersembunyi dibalik doa sederhana ini. Setiap kali bibir kita mengucapkan, “Tuhan Yesus Kristus…” , sesungguhnya kita sedang memperbarui jawaban atas panggilan yang terlebih dahulu kami terima. Seolah-olah setiap hari kita kembali berkata, “Ya Tuhan, aku masih datang kepada-Mu. Aku masih mengikuti-Mu. Aku masih ingin hidup bersama-Mu.” Dan kiranya kita boleh yakin bahwa di situlah letak rahasia kesetiaan. Kesetiaan terutama bukan karena kuatnya kita pada Tuhan. Tetapi lebih karena Tuhan Yesus Kristus tidak pernah melepaskan genggamannya atas kita.
Recent Comments