Oh, betapa besarnya gairah setiap jiwa yang akan hidup di biara itu karena Allah datang dan tinggal bersama kita. Biarlah diingat-ingat oleh setiap suster bahwa kalau kita, para biarawati, tidak memohon kerahiman Allah, siapa lagi yang akan melakukannya?

Setiap suster hendaknya terbakar seperti kurban yang murni di hadapan keagungan Allah, tetapi untuk menyenangkan Hati Allah, setiap suster hendaknya menyatukan diri erat-erat dengan Yesus. 

Hanya bersama Dia, dalam Dia, dan lewat Dialah kita dapat menyenangkan Hati Allah.• BHF 572

Setiap suster hendaknya terbakar seperti kurban yang murni di hadapan keagungan Allah. Namun, untuk menyenangkan Hati Allah, setiap suster hendaknya menyatukan diri erat-erat dengan Yesus. Merenungkan BHF 572 ini, pikiranku malah langsung tertuju kepada doa Koronka Kerahiman Ilahi:
“Bapa yang kekal, kupersembahkan kepada-Mu Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allahan Putra-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, sebagai pendamaian atas dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia.”

Yang kubayangkan adalah kurban Yesus yang begitu agung, utuh, dan sempurna kepada Bapa. Hanya Dialah satu-satunya Kurban yang sungguh berkenan kepada Bapa. Maka ketika Faustina menulis bahwa setiap suster hendaknya terbakar seperti kurban yang murni di hadapan keagungan Allah, aku mulai sedikit memahami bahwa yang dimaksud bukanlah mempersembahkan diriku sendiri dengan kekuatanku, melainkan menyatukan seluruh persembahan hidupku yang hina dan terbatas dengan Kurban Yesus yang sempurna. Suatu persatuan yang seerat mungkin, sebab hanya bersama Dia, dalam Dia, dan lewat Dialah kita dapat menyenangkan Hati Allah.

Aku sadar tanpa Yesus, persembahanku tidaklah sempurna. Doaku, pekerjaanku, pengorbananku, bahkan kasihku masih begitu terbatas. Namun ketika semuanya kupersatukan dengan Kurban Yesus, persembahan kecil itu memperoleh makna yang baru, karena dipersatukan dengan kasih Kristus yang sempurna kepada Bapa. Mungkin inilah makna terdalam menjadi kurban yang murni. Bukan mencari penderitaan atau melakukan hal-hal yang besar, melainkan setiap hari mempersembahkan seluruh hidup kepada Bapa melalui Yesus. Sukacita dan dukaku, keberhasilan dan kegagalanku, doa, karya, pelayanan, kerapuhan, kelemahan dan salibku, semuanya kupersatukan dengan Kurban Kristus demi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa.

Semakin kurenungkan, semakin kusadari bahwa doa Koronka bukan hanya doa permohonan akan kerahiman, tetapi juga doa persembahan. Setiap kali aku mengucapkan dengan sadar dan penuh iman, aku diajak masuk ke dalam Kurban Yesus sendiri, lalu mempersembahkan seluruh hidupku bersama-Nya kepada Bapa. Mungkin inilah yang dimaksud Faustina ketika mengajak setiap suster menjadi kurban yang murni: hidup yang tidak lagi dipersembahkan sendiri, tetapi selalu bersama Dia, dalam Dia, dan lewat Dia. Yesus, Engkau andalanku.