SENIN, PEKAN BIASA XII
2 Raj 17:5-8.13-15a.18; Mzm 60:3.4-5.12-13; Mat 7:1-5.

Liturgi hari ini menyingkapkan dua hal penting: ketidaksetiaan Israel yang membawa kehancuran, dan panggilan Yesus untuk hidup rendah hati dengan tidak menghakimi sesama. Bacaan ini mengajak kita untuk setia kepada Allah dan selalu memeriksa hati sendiri sebelum menilai orang lain.
Israel sebagai bangsa terpilih mengalami kehancuran. Israel dikalahkan oleh bangsa kafir, yaitu Asyur. Hal ini terjadi bukan karena ketidakmampuan Israel. Tetapi, lebih karena ketidaksetiaan mereka terhadap perjanjian dengan Allah. Mereka tidak setia untuk menyembah Allah dan hidup menurut kehendak Allah. Mereka lebih setia menyembah dewa-dewi asing, bahkan hidup menurut kehendak mereka sendiri. Namun, Allah masih memelihara dan melindungi mereka yang tetap setia, yaitu yang disebut “sisa kecil”, yang akan tumbuh dalam kesetiaan terhadap Allah.

Yesus mengingatkan setiap pengikutnya untuk menghindari penghakim terhadap orang lain. Sebab penghakiman adalah hak istimewa Allah. Peringatan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menghilangkan keutamaan mengoreksi orang lain yang bersalah. Koreksi tentu saja harus dilakukan, namun selalu harus dalam kesadaran akan terjadinya kesalahan dan prasangka diri kita terhadap orang lain. Itu berarti, setiap orang beriman ditantang untuk tetap setia pada maksud dan rencana serta kehendak Allah sebagai ukuran atau patokannya, bukan dirinya sendiri dan juga hal-hal yang lain.

Sejauh mana aku telah setia pada maksud, rencana, dan kehendak Allah? Apakah aku gampang menghakimi orang lain?
Hari ini kita diajak untuk setia kepada Allah, percaya pada kekuatan-Nya, dan hidup rendah hati dengan tidak menghakimi sesama. Dengan demikian, kita menjadi umat yang berkenan kepada Allah dan saksi kasih-Nya di dunia.
Mari membangun kesetiaan kita pada maksud, rencana, dan kehendak Allah bagi diri dan hidup kita.
Tuhan memberkati. * RD AMT