Masa Postulat. Syarat usia untuk penerimaan setiap orang yang berusia antara 15 dan 30 tahun dapat diterima.
Pertama-tama, harus dipertimbangkan roh yang memenuhi hati si calon dan sifat-sifatnya, apakah ia memiliki kehendak yang kuat dan keberanian untuk mengikuti jejak kaki Yesus dengan sukacita dan kegembiraan sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan penuh sukacita.
Ia harus mampu menyangkal dunia dan dirinya sendiri. Tidak adanya mahar tidak pernah boleh menghalangi penerimaan. Semua formalitas yang berkaitan dengan calon harus jelas; jangan membiarkan kasus-kasis yang berbelit-belit.
Orang yang melankolis, yang gampang bersedih, yang mengidap penyakit menular, yang sifatnya tidak stabil, dan yang gampang curiga terhadap orang lain, tidaklah cocok untuk kehidupan membiara dan harus ditolak. Para anggota hendaknya dipilih dengan amat cermat karena satu anggota yang tidak cocok sudah cukup untuk menghempaskan seluruh biara ke dalam kekacauan. • BHF 542
“Pertama-tama, harus dipertimbangkan roh yang memenuhi hati si calon.” Faustina memulai dari roh yang memenuhi hati si calon sebagai syarat utama untuk memulai masa postulat, sebagai tahap formasi dasar. Mengapa bukan dari kemampuan, kecerdasan, kesehatan, atau latar belakang keluarga? Padahal semua itu juga penting.
Aku memahami kata “roh” sebagai sebuah “semangat’ sebuah disposisi batin yang menggerakkan, mendorong semangat seluruh hidup seseorang.
Apa yang sebenarnya dicari oleh calon itu?
Apa yang mendorongnya datang? Apa yang menjadi kerinduan hatinya yang paling dalam? Apakah ia sungguh ingin mengikuti Yesus? Apakah ia sungguh mencintai Tuhan?
Apakah ia memiliki keberanian untuk meninggalkan dirinya sendiri demi Kristus?
Faustina memberikan tanda yang sangat jelas, “Apakah ia memiliki kehendak yang kuat dan keberanian untuk mengikuti jejak kaki Yesus dengan sukacita dan kegembiraan.” Di sinilah jawabannya dan aku mengalaminya. Persyaratan awal dan pertanyaan -pertanyaan dasariah tersebut tetap menjadi pertanyaan refleksi abadi sampai saat ini, agar hidup tetap terarah kepada Allah, kepada Roh yang menggerakkan, mendorong, yang memimpin dan yang membuatnya mampu.
Roh yang memenuhi hati seorang calon adalah roh yang mengarah kepada Kristus.
Roh yang membuatnya berani mengikuti Yesus.
Roh yang membuatnya rela menyangkal diri.
Roh yang membuatnya tetap bersukacita meskipun harus berkorban bahkan menderita.
Roh yang sama yang memenuhi hidup Yesus.
Roh yang membuat-Nya taat kepada Bapa.
Roh yang membuat-Nya mengasihi sampai akhir.
Roh yang membuat-Nya tetap setia bahkan di tengah penderitaan.
Seseorang mungkin sangat pandai, tetapi belum tentu memiliki roh pengorbanan.
Seseorang mungkin memiliki banyak talenta dan kemampuan yang dibutuhkan dalam karya misi, namun belum tentu memiliki roh kerendahan hati.
Seseorang mungkin dapat melakukan banyak hal dengan hasil yang luar biasa, tetapi belum tentu hatinya memiliki roh kasih.
Ya..tidak mudah untuk mengenali roh yang bekerja dalam diri seseorang, bahkan dalam diri sendiri. Nanti dapat dikenal dari buah-buah roh yang tampak dalam hidup sehari-hari (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri). Hidup bakti pada hakekatnya adalah mengikuti Kristus nenurut Injil demi mencapai kesempurnaan cinta kasih.Maka Yesuslah model tatapannya dan harus diikuti. Itulah kriteria dasar.
Merenung BHF 542, aku bertanya kepada diriku sendiri: Roh apakah yang memenuhi hatiku saat ini? Apakah roh Kristus sungguh hidup dalam diriku?Apakah aku masih mengikuti Yesus dengan sukacita? Ya Yesusku, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu aku mencintai-Mu.Penuhilah hatiku dengan Roh-Mu. Perbaharuilah semangat panggilanku setiap hari, agar aku mampu mengikuti jejak kaki-Mu dengan sukacita, keberanian, dan kasih yang setia sampai akhir. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments