RABU, PEKAN BIASA XIII
Am 5:14-15.21-24; Mzm 50:7.8-9.10-11.12-13.16bc-17; Mat 8:28-34.
Liturgi hari ini menyingkapkan dua hal penting: Allah yang menolak ibadah tanpa keadilan, dan Yesus yang berkuasa atas roh jahat. Bacaan ini mengajak kita untuk menghidupi iman sejati, bukan sekadar ritual, melainkan kasih dan kebenaran yang nyata dalam hidup.
Nabi Amos menegaskan bahwa betapapun meriahnya perayaan ibadat yang diselenggarakan tidak akan memiliki landasan dan makna jika tanpa motivasi iman yang baik. Perayaan itu hanya akan menjadi sekadar formalitas belaka dan menjadi sebuah tontonan saja. Bahkan perayaan tersebut justru menjadi topeng yang menyembunyikan kejahatan dan kekejaman. Oleh karena itu, setiap perayaan harus mencerminkan nilai-nilai iman seperti: keadilan, kasih, dan damai sejahtera.
Kisah pengusiran roh jahat dari dua orang yang kerasukan roh jahat menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, Allah dalam diri Yesus mempunyai kuasa atas segala sesuatu. Kedua, hal-hal yang jahat tidak sepantasnya ada atau tinggal pada diri manusia. Oleh karena itu, kehadiran Allah harus menjadi dasar atau landasan dan makna bagi pribadi dan kehidupan setiap orang.
Sejauh mana Allah telah menjadi landasan dan makna bagi diri dan setiap peristiwa hidupku? Sejauh mana perayaan ibadat yang telah aku lakukan telah mencerminkan nilai-nilai iman seperti: keadilan, kasih, dan damai sejahtera? Bagaimana aku telah mewujudkannya?
Hari ini kita diteguhkan untuk mencari kebaikan, hidup dalam keadilan, dan percaya pada kuasa Kristus yang membebaskan. Iman sejati bukan sekadar ritual, melainkan hidup yang nyata dalam kasih dan kebenaran.
Mari mewujudkan iman kita dalam kehadiran Allah yang menjadi dasar dan makna bagi kehidupan kita.
Tuhan memberkati. RD AMT
Recent Comments