SABTU, PEKAN BIASA XV
Mi 2:1-5; Mzm 10:1-2.3-4.7-8.14; Mat 12:14-21.

Liturgi hari ini menyingkapkan wajah Allah yang adil: Ia mengecam orang yang merencanakan kejahatan demi keuntungan, dan Yesus yang tampil sebagai Hamba Allah yang lembut, membawa damai dan pengharapan. Bacaan ini mengajak kita untuk hidup dalam keadilan, membela yang lemah, dan meneladani Kristus yang penuh kasih.

Nabi Mikha menyaksikan bagaimana kejahatan berkembang merajalela. Orang-orang jahat begitu gampang merancang dan melakukan kejahatannya. Mereka merampas, menyerobot, menindas orang-orang yang tidak berdaya. Kekuatan dan kekuasaan mereka seakan tidak terbendung. Namun, Allah tidak akan tinggal diam. Tiba saatnya, mereka akan dihancurkan oleh kekuatan dan kekuasaan Allah yang bekerja secara pelan dan tidak menyolok namun sangat pasti.

Bagi orang Farisi, pewartaan, karya dan cara hidup Yesus adalah sebuah sandungan. Oleh karena itu mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus. Namun, Yesus tidak membalas tindakan mereka dengan kekerasan. Yesus justru menunjukkan bagaimana kekuatan, kekuasaan Allah yang melakukan segala tindakan penyelamatan dalam kelembutan tanpa kekerasan. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya, tidak akan dipadamkannya”.

Bagaimana, apakah aku telah mengenali dan menyadari kekuatan dan kekuasaan Allah yang bekerja dalam diriku? Apakah aku sudah membuka diriku sepenuhnya pada kekuatan dan kekuasaan Allah itu?
Hari ini kita diteguhkan untuk meninggalkan keserakahan, percaya pada Allah yang membela yang lemah, dan meneladani Kristus yang membawa damai. Mari kita hidup sebagai umat yang adil, penuh kasih, dan menjadi saksi pengharapan di tengah dunia. Mari mengenali dan menyadari kekuatan dan kekuasaan Allah yang bekerja dalam diri kita melalui peristiwa peristiwa hidup kita.
Tuhan memberkati. RD AMT