SELASA, PEKAN BIASA XIX
Ul. 31:1-8; MT Ul. 32:3-4a,7,8,9,12; Mat. 18:1-5,10,12-14

Musa sadar bahwa ia tidak akan memimpin bangsa Israel memasuki tanah terjanji. Hal ini terjadi sesuai dengan yang telah disabdakan oleh Allah. Musa tidak diperkenankan memasuki tanah terjanji karena kekurangpercayaannya atas perintah Allah ketika bangsa itu menuntut makanan dan minuman di padang gurun. Oleh karena itu, Musa mempersiapkan Yosua sebagai penggantinya. Kepada Yosua, Musa mengingatkan hal yang paling fundamental, yaitu percaya sepenuhnya kepada Allah. Yosua diingatkan untuk menaati perintah yang disampaikan kepadanya. Ia harus kuat dan teguh hati. Sebab, Allah tidak akan meninggalkan dia.

Dengan cara simbolik, Yesus menyadarkan para murid-Nya untuk membangun sikap kemuridan. Sikap anak kecil yang polos, jujur dan tulus serta terbuka dan tergantung pada orang yang lebih dewasa harus menjadi sikap setiap murid berhadapan dengan kehendak dan perintah Allah. Sebab, hanya melalui sikap seperti itu setiap murid dapat mewujudkan kasih dan kerahiman Allah.

Sejauh mana aku telah membangun sikap iman, yaitu percaya sepenuhnya kepada Allah? Apakah sikap polos, jujur dan tulus serta terbuka dan tergantung pada Allah telah menjadi sikap kemuridku?
Mari membangun sikap iman, yaitu percaya sepenuhnya kepada Allah. Mari membangun kualitas kemuridan kita dalam sikap polos, jujur dan tulus serta terbuka dan tergantung sepenuhnya kepada Allah.
Tuhan memberkati. * RD AMT