MINGGU PASKAH V
Kis. 14:21b-27; Mzm.145:8-9,10-11,12-13ab; Why. 21:1-5a; Yoh. 13:31-33a,34-35

Menjelang pemuliaan-Nya, Yesus memberikan perintah yang baru. Pemuliaan itu terjadi dalam rangkaian sengsara dan kematian Yesus di kayu salib. Sengsara dan kematian sangat erat kaitannya dengan kebangkitan. Kebangkitan Yesus tidak akan terjadi dan tidak bisa juga dipahami tanpa sengsara dan kematian-Nya di kayu salib. Sebab, pemuliaan Yesus secara istimewa justru tampak dalam sengsara dan kematian-Nya di kayu salib. Melalui sengsara dan kematian Yesus, kuasa dan kehadiran Allah yang penuh kasih dimanifestasikan secara nyata. Maka, sengsara dan kematian Yesus di kayu salib mewujudkan bukti yang sangat nyata dari kasih Ilahi. Pada kenyataan ini, setiap orang yang mau menjadi murid Yesus harus meniti jalan yang sama, yaitu sengsara dan kematian. Seperti Yesus sendiri, setiap murid Yesus harus memiliki sifat dan sikap rela berkurban dan tulus menghadapi penderitaan. Semuanya itu, tidak akan mungkin terjadi tanpa landasan cinta kasih. Cinta kasih seperti yang telah dicontohkan oleh Yesus itu sendiri: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Inilah perintah baru! Pada perintah baru itu para murid disadarkan bahwa mereka tidak dibiarkan sendirian untuk saling mengasihi menurut cara mereka sendiri, melainkan diberi kemampuan untuk mengasihi dan dikasihi. Itu berarti, model dan sumber cinta kasih yang diperintahkan adalah sengsara dan kematian Yesus itu sendiri sebagai ungkapan yang tertinggi dari cinta kasih itu (15:13). Cinta kasih itu mencontoh kasih Bapa dan Putera (14:12; 15:9).

Dalam perjalanan pewartaan, Paulus dan Barnabas selalu mendorong , menasihati dan meneguhkan jemaat untuk tetap teguh menjalani hidup sesuai iman mereka akan Kristus Yesus. Meraka menyadarkan jemaat bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, setiap orang beriman akan mengalami banyak penderitaan dan kesengsaraan. Setiap murid akan mengalami berbagai cobaan, rintangan yang sangat berat, seperti yang dialami oleh Kristus Yesus itu sendiri. Walau demikian, jika semuanya itu dijalani dengan iman yang teguh dan dengan sukacita, maka penderitaan seberat apa pun akan merupakan pengalaman yang membawa sukacita.

Langit dan bumi yang baru ditampakkan dalam penglihatan menggantikan penciptaan yang lama, yang lama lenyap untuk selamanya. Pusat ciptaan baru adalah Yerusalem Baru (Yes 52:1-3). Kota suci ini akan menjadi tempat tinggal Allah yang sesungguhnya. Suara dari takhta menyatakan bahwa janji-janji yang berhubungan dengan kehadiran ilahi terpenuhi dalam kota ini. Di sinilah cinta kasih Allah akan berkembang dengan suburnya, sebab kehadiran Allah yang tetap di tengah umat-Nya. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Kesesakan dan kecemasan hidup, perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita tidak akan ada lagi. Dengan demikian suatu ciptaan baru dimulai.

Kemuliaan seperti apa yang aku cari dalam hidupku ini? Berhadapan dengan kenyataan penderitaan, kesulitan, dan tantangan yang ada, apa sikap imanku? Apa makna cinta kasih sebagai perintah baru bagi hidupku sebagai orang beriman? Sebagai perintah baru, apakah cinta kasih senantiasa menjadi daya dan arah baru bagi hidupku sebagai orang beriman? Apa wujudnyatanya?
Marilah menimba daya dan arah baru dari cinta kasih Allah dalam dari Yesus yang telah menyerahkan diri dan hidup-Nya bagi kita manusia. Mari mewujudkan cinta kasih itu dalam hidup beriman kita.
Tuhan memberkati. * RD AMT