SELASA, PEKAN BIASA X
2Kor. 1: 18-22; Mzm. 119:129,130,131,132,133,135; Mat. 5:13-16.

Hidup bersama Allah bukanlah sebuah pengalaman yang hanya tertutup pada diri sendiri, melainkan harus menjadi kesaksian bagi kehidupan semua orang. Maka setiap orang beriman harus menyadari bahwa ia mengemban misi untuk menjadi saksi iman bagi semua orang. Kesadaran tersebut digambarkan oleh Yesus dalam tuntutan bagi setiap murid-Nya untuk menjadi garam dan terang dunia. Sebagaimana garam, para murid mempunyai peranan yaitu menambahkan kualitas dari hakikat dan kehidupan manusia serta mengawetkannya dari bahaya kehancuran. Sebagai terang, para murid adalah sinar yang menerangi dunia. Betapa pun kecilnya terang itu, ia berperan untuk mengusir kegelapan. Melalu perumpamaan tentang garam dan terang, Yesus menantang dan menuntut setiap murid-Nya untuk menjadi saksi iman dalam kesetiaan akan Allah dalam diri Yesus, sang pemberi kualitas dan penerang hidup.

Penundaan kunjungan kedua kalinya kepada Jemaat di Korintus menjadi kesempatan bagi para pemfitnah Paulus untuk merongrong kepercayaan jemaat Korintus terhadap Paulus. Berhadapan dengan fitnahan tersebut Paulus menegaskan bahwa dalam Kristus yang ada adalah “YA” atau “TIDAK”. Sikap plin-plan ditolaknya. Hal ini didasarkan pada sikap Yesus itu sendiri sebagai “sang AMIN”, yang senantiasa menyatakan “YA” kepada setiap rencana dan kehendak Allah. Maka, setiap orang beriman juga harus senantiasa mengembangkan sifat tersebut.

Cita rasa hidup seperti apa yang telah aku wujudkan sebagai seorang murid Kristus? Apa aku telah menyadari diriku seutuhnya sebagai garam dan terang dunia? Apakah seluruh hidupku adalah sebuah “YA” pada rencana dan kehendak Allah?
Mari mewujudkan cita rasa hidup beriman kita sebagai garam dan terang dunia. Mari membangun hidup kita sebagai sebuah “YA” pada rencana dan kehendak Allah.
Tuhan memberkati. *RD AMT