21 September 1935
Pada suatu hari, bapak pengakuanku mengajak aku pergi dan melihat apakah rumah itu yang pernah aku lihat dalam suatu penglihatan. Ketika aku pergi bersama bapak pengakuan untuk melihat rumah itu, atau lebih tepat reruntuhan itu, sekali pandang aku langsung mengenali bahwa itulah rumah yang tampak dalam penglihatanku.
Pada saat aku menyentuh papan yang telah dipaku untuk menutup pintu-pintu, suatu kekuatan merasuki jiwaku laksana suatu kilat, yang memberiku keyakinan yang tak tergoyahkan. Dengan cepat, aku meninggalkan tempat itu, hatiku penuh dengan sukacita karena aku merasa bahwa ada suatu kekuatan tertentu yang mengikat aku dengan tempat itu.
Aku sangat bahagia menyaksikan segala sesuatu sungguh cocok dengan apa yang kulihat dalam penampakan. Ketika bapak pengakuan berbicara kepadaku mengenai pengaturan kamar-kamar dan hal-hal lain, aku menyadari segala sesuatu sama seperti yang telah dikatakan kepadaku oleh Yesus. Hatiku sangat bersukacita karena Allah bertindak lewat bapak pengakuanku dan aku tidak heran karena Allah memberi dia terang yang sedemikian besar.
Allah Sang Terang selalu tinggal dalam hati yang murni dan rendah hati dan segala penderitaan serta kesusahan hanya mau mengungkapkan kekudusan jiwa.
Ketika aku kembali ke rumah, aku langsung pergi ke kapel kami untuk beristirahat sejenak. Kemudian, tiba-tiba aku mendengar kata-kata ini dalam jiwaku, Jangan takut akan suatu pun. Aku menyertaimu. Semua masalah ini ada dalam tangan-Ku dan Aku akan mengantarnya sampai menghasilkan buah sesuai dengan kerahiman-Ku karena tidak suatu pun dapat menghalangi kehendak-Ku. • BHF 573
Semua masalah ini ada dalam tangan-Ku dan Aku akan mengantarnya sampai menghasilkan buah sesuai dengan kerahiman-Ku karena tidak suatu pun dapat menghalangi kehendak-Ku.Kalimat ini bagiku sungguh menghibur dan meneguhkan. Yesus tidak hanya meyakinkan Faustina agar jangan takut, tetapi Ia sendiri berjanji akan melakukan bagian-Nya, yaitu mengantar karya itu sampai menghasilkan buah sesuai dengan Kerahiman-Nya. Sungguh betapa baik dan penuh kasih Tuhan kita.
Sabda ini menunjukkan bahwa Allah memang bekerja. Faustina dan Pastor Sopocko dilibatkan dalam karya-Nya yang agung, yaitu karya Kerahiman Ilahi. Allah sendiri yang memulai, membimbing, membuka jalan, dan pada akhirnya menyempurnakan karya itu. Faustina tidak perlu cemas. Ia cukup percaya, menyerahkan diri sepenuhnya, dan mempercayakan semuanya kepada penyelenggaraan Allah. Tentang hasilnya, biarlah Tuhan sendiri yang mengaturnya. Ada waktu-Nya, ada cara-Nya, dan ada buah yang telah dipersiapkan-Nya.
Aku belajar bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar instan dalam karya Allah. Semuanya berproses. Kadang harus melewati masa penantian, penderitaan, keraguan, bahkan berbagai tantangan. Namun, ketika Allah sendiri yang mengantar perjalanan itu, hasilnya akan nyata pada waktunya. Ii mengingatkanku untuk tidak terlalu sibuk memikirkan hasil, tetapi lebih setia menjalani proses bersama Tuhan. Tugasku memberi ruang bagi Allah untuk berkarya. Tugas Allah adalah mengantar karya itu sampai menghasilkan buah sesuai dengan Kerahiman-Nya. Dan aku percaya, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi karya Allah. Aku bersyukur atas semua kasih, kebaikan dan kerahiman Allah bagiku. Yesus ,Engkau andalanku
Recent Comments