MINGGU BIASA XVII, HARI ORANGTUA, KAKEK DAN NENEK SEDUNIA
Kej. 18:20-33; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,6-7ab,7c-8; Kol. 2:12-14; Luk. 11:1-13
Hari Orang Tua, Kakek Nenek Sedunia ditetapkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2021 untuk diperingati pada setiap Minggu keempat bulan Juli. Tujuannya untuk menghormati peran penting kakek-nenek dan lansia dalam keluarga dan masyarakat. Tema yang dipilih oleh Paus Fransiskus untuk perayaan tahun 2025 ini: “Berbahagialah yang tidak kehilangan harapannya” (Sirakh 14:2). Tema ini selaras dengan Tahun Yubileum Pengharapan, yang menekankan bahwa orang tua bukan hanya penerima perhatian pastoral, tetapi juga saksi harapan dan tokoh aktif dalam kehidupan menggereja. Pengalaman hidup dan iman mereka adalah harta berharga, mampu memperkaya generasi baru dan memperkuat jaringan komunitas. Orang tua, kakek dan nenek adalah guru kehidupan dalam Gereja dan masyarakat.
Kitab Kejadian berceritera tentang rencana Allah untuk membinasakan kota Sodom dan Gomora karena kejahatan mereka yang sudah melampaui batas. Pada situasi seperti itu, Abraham tampil sebagai pengantara kasih Allah. Sebagai orang yang dekat dengan Allah, Abraham tampil menyampaikan permohonan untuk menyelamatkan Sodom dan Gomora. Namun ternyata tidak ada sepuluh orang baik pun yang bisa ditemukan seperti “tawar menawar” yang dilakukan oleh Abraham.
Melalui rumusan doa yang sangat singkat Yesus menyadarkan setiap orang akan inti setiap doa. Doa, terutama dan pertama-tama adalah memuliakan Allah, kepenuhan kehendak-Nya, memohon terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, pengampunan dosa, dan pembebasan dari kejahatan. Melalui hal ini terwujudlah intensitas hubungan yang amat pribadi dengan Allah sebagai sumber, arah, dan tujuan hidup manusia. Cerita tentang kunjungan sahabat waktu malam dan ayah yang tidak akan memberikan ular dan kalajengking kepada anaknya merupakan penyadaran tegas bagi setiap orang beriman untuk tetap bertekun dan bertahan dalam doa. Sebab Allah yang kita imani adalah Allah yang menghendaki yang terbaik bagi kita. Hal ini terwujud dalam diri Yesus yang tersalib dan dalam Roh Kudus yang memberikan daya bagi setiap orang.
Hidup dalam Kristus berarti berakar dalam Dia, membangun dasar hidup pada-Nya, tumbuh menjadi kuat dalam iman akan Dia dan berlimpah dalam syukur. Oleh karena itu, setiap orang beriman harus waspada terhadap siapa pun dan apa pun yang berusaha menawan dengan hikmat dan pengetahuan palsu. Bagi setiap orang beriman, Kristus adalah kepenuhan kekayaan surga dan bumi. Melalui baptisan, setiap orang beriman diikat sebagai ciptaan baru. Orang beriman diperkenankan mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus.
Siapa dan bagaimanakah Allah yang aku imani? Apakah aku mengimani Allah sebagai Yang Penuh Kasih? Apakah hidupku telah berakar dalam Allah melalui Yesus Kristus? Bagaimana aku telah membina hubungan dengan Allah yang penuh kasih itu di dalam doa-doaku? Apa isi doa yang selalu aku panjatkan?
Mari belajar dari para orang tua, kakek dan nenek untuk membangun harapan bagi hidup yang berakar pada Allah melalui Yesus Kristus. Mari mewujudkan keintiman dengan Allah melalui doa-doa kita bersama dan untuk para orang tua, kakek dan nenek di seluruh dunia.
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments