MINGGU ADVEN II
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:1-2,7-8,12-13,17; Rm. 15:4-9; Mat. 3:1-12
Pada masa Advent II ini, kita diajak untuk merenungkan harapan yang tumbuh di tengah kekeringan. Bacaan hari ini menggambarkan padang gurun kehidupan—ketidakadilan, kekerasan, dan kekosongan spiritual—namun juga menampilkan “tunas” yang tumbuh dari tunggul Isai: simbol harapan, pembaruan, dan kedatangan Sang Mesias.
Dalam ucapan puitis dengan gambaran fantasi, nabi Yesaya menubuatkan janji tentang pemimpin para bangsa. Ia berasal dari keturunan Daud, tunas yang keluar dari tunggul Isai. Pemimpin ini dipenuhi oleh Roh Allah dan memiliki daya kekuatan dari Allah. Ia akan melakukan apa yang dapat dilakukan oleh seorang raja adil. Ia akan menghakimi orang lemah dengan adil, orang tertindas dengan kejujuran. Pemerintahan-Nya dipenuhi dengan kebenaran dan kesetiaan. Buah pemerintahan-Nya adalah suasana damai yang mustahil diwujudkan oleh raja duniawi. Sebab, dalam kerajaan-Nya akan terjadi transformasi alam yang tidak dapat dilakukan oleh seorang raja, misalnya: serigala dan domba akan tinggal bersama, lembu dan beruang akan sama-sama merumput, bayi akan bermain-main dekat liang ular tedung, dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke saran gular beludak.
Hidup dan karya Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea diperkenalkan oleh penginjil Matius. Yohanes digambarkan sebagai sosok yang meneruskan gaya hidup nabi, bahkan ia digambarkan sebagai Elia baru. Gambaran pakaian dan ikat pinggangnya mengingatkan setiap orang akan pakaian nabi Elia (2 Raj 1:8). Tugas Yohanes Pembaptis adalah mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus. Kotbah Yohanes Pembaptis mengingatkan orang-orang Yahudi untuk tidak mengandalkan diri sendiri sebagai keturunan Abraham. Semua orang diingatkan bahwa waktunya singkat dan pada waktu pengadilan yang akan datang, sebelum pemenuhan Kerajaan Allah, buah hasil pekerjaan baiklah yang akan diperhitungkan. “Kapak sudah tersedia pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilakn buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api”. Oleh karena itu, setiap orang dituntut untuk selalu bersiap diri untuk mencermati dan mengamalkan ajaran serta karya Yesus. Yesus itulah yang “perkasa”, yang dipenuhi oleh Roh Kudus, sang Raja Adil. Untuk itu, pertobatan merupakan cara yang terbaik mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan, sang Raja Adil. Salah satu buah pertobatan adalah semangat rendah hati sebagaimana ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus.
Paulus mengajak jemaat di Roma untuk setia meneladani Kristus dalam mewujudkan persatuan sehingga dengan satu hati dan satu suara memuliakan Allah Bapa. Yesus dijadikan sebagai teladan karena Ia telah mengurbankan diri didorong oleh kasih yang menunjukkan bahwa Allah setia pada janji-janji-Nya yang telah dibuat-Nya dengan para bangsa.
Sejauh mana aku telah mempersiapkan diri diri untuk mencermati dan mengamalkan ajaran serta karya Yesus selama masa Adven ini? Apa sikap dan tindakan “pertobatanku” untuk menelusuri jalan keselamatan Allah selama masa Adven ini? Jalan seperti apakah yang telah, sedang, dan akan aku persiapkan selama masa Adven ini untuk menyambut kedatangan Tuhan, Juru Selamatku? Apakah masa Adven ini telah aku hayati sebagai masa rahmat Allah untuk membangun pertobatan diriku? Apa wujud pertobatan itu?
Mari kita menjadi “tunas harapan dan pembaruan” di tengah padang gurun zaman ini: Dalam keluarga: bangun komunikasi yang penuh kasih dan pengampunan. Dalam komunitas: ciptakan ruang inklusif dan pelayanan nyata. Dalam Gereja: jadilah saksi keadilan, pembaruan, dan damai.
Advent bukan sekadar menunggu, tetapi bertindak. Kristus datang bukan hanya ke palungan, tetapi ke hati dan karya kita.
Mari mempersiapkan diri diri untuk mencermati dan mengamalkan ajaran serta karya Yesus selama masa Adven ini. Mari membangun sikap tobat selama masa Adven ini sebagai jalan persiapan untuk menyongsong kedatangan-Nya yang menyelamatkan.
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments