Sesudah setiap pembicaraan dengan Tuhan, jiwaku beroleh kekuatan yang luar biasa, suatu ketenangan yang mendalam meliputi jiwaku dan memberiku keberanian sedemikian rupa sehingga aku tidak takut akan apa pun di dunia ini, tetapi hanya takut kalau aku membuat Yesus bersedih.• BHF 610

“Sesudah setiap pembicaraan dengan Tuhan, jiwaku beroleh kekuatan yang luar biasa.” Aku tertegun membaca kesaksian Faustina ini. Setiap pembicaraan dengan Tuhan meninggalkan sesuatu dalam dirinya susatu kekuatan yang luar biasa, ketenangan yang mendalam, dan keberanian untuk menghadapi apa pun. Boleh kuartikan bahwa bagi Faustina, berbicara dengan Tuhan bukan sekadar mengucapkan doa. Ada perjumpaan yang sungguh terjadi. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya setelah ia berbicara dengan Yesus.

Bagaimana dengan doa-doaku selama ini? Berapa banyak kali aku berbicara kepada Tuhan, tetapi sesudahnya hatiku sepertinya biasa saja atau mungki tetap gelisah? Kadang selesai berdoa, tetapi pikiranku masih dipenuhi kekhawatiran yang sama? Mengapa?

Mungkin bukan Tuhan tidak berbicara. Bisa jadi akulah yang belum sungguh tinggal dalam pembicaraan itu, belum sungguh mendengarkan, belum sungguh menyerahkan diriku kepada-Nya. Sehingga tidak terjadi apa-apa, entah perubahan sederhana seperti perasaan yang tenang, hati makin yakin dan kuat serta gerakan batin untuk.melakukan amal kasih.

Faustina mengatakan bahwa sesudah setiap berbicara dengan Tuhan, ia memperoleh ketenangan yang mendalam. Tentu bukan semua persoalan langsung selesai. Atau tidak ada lagi penderitaan atau tantangan. Tetapi yang nyata dialami adalah ia pulang dari perjumpaan itu dengan hati yang sudah berbeda: lebih kuat, lebih tenang, dan lebih berani. Betapa aku ingin selalu mengalami pengalaman seperti ini!

Sering kali aku ingin Tuhan mengubah keadaan di sekitarku. Tapi hari ini aku belajar dari Faustina bahwa mungkin Tuhan pertama-tama ingin mengubah hatiku ketika berhadapan dengan keadaan itu. Jawabannya mungkin belum datang.segera.
Tetapi setelah berbicara dengan Tuhan, aku dapat yakin, aku tidak sendirian.Dari sana lahirlah keberanian.

Aku sangat tersentuh ketika Faustina mengatakan bahwa ia tidak takut akan apa pun di dunia ini, kecuali takut membuat Yesus bersedih. Betapa berbeda ukuran hidupnya! Yang paling ia takutkan adalah melukai hati Yesus yang dikasihinya.

Kiranya ini juga menjadi buah dari setiap pembicaraanku dengan Tuhan, bukan hanya menjadi lebih tenang, tetapi semakin mencintai-Nya; bukan hanya semakin berani menghadapi dunia, tetapi semakin peka terhadap apa yang dapat menyenangkan Hati-Nya.

Aku ingin belajar berbicara dengan Yesus seperti seorang anak berbicara kepada Bapanya. Menceritakan semuanya. Kegembiraan, kesedihan, kebingungan, kekhawatiran, kelemahan, bahkan hal-hal yang tidak mampu kuungkapkan kepada siapa pun. Lalu diam. Mendengarkan.
Tinggal bersama-Nya selama mungkin. Merasakan kasih-Nya, yang memberikan segala rahmat yang kubutuhkan.
Yesus, Engkau andalanku