Pada suatu kesempatan, aku melihat Yesus kehausan dan lunglai, dan Ia berkata kepadaku, Aku haus. ketika aku memberi-Nya air, Ia mengambilnya, tetapi tidak meminumnya dan langsung menghilang. Ia mengenakan pakaian seperti ketika menjalani sengsara. • BHF 583

Yesusku,
Membaca kisah-Mu di kayu Salib, Faustina membawaku ke Kalvari.
Teman-temanku berkisah dengan indah. Kisah mereka menyentuh hatiku dan menginspirasiku. Namun, Tuhanku, bukankah Engkau selalu haus, sama seperti aku selalu haus?

Engkau haus akan apa? Apa yang harus kuberi kepada-Mu?

Faustina saja sempat salah mengerti arti haus-Mu. Ia memberi-Mu air. Engkau menerimanya, tetapi tidak meminumnya. Hanya Engkau dan dia yang tahu apa yang sesungguhnya paling Kaukehendaki.

Yesus, aku tidak tahu harus memberi apa kepada-Mu. Banyak orang kudus telah menemukan makna dahaga-Mu menurut pengalaman mereka. Faustina juga telah menemukannya. Teman-temanku pun sudah menemukannya. Tetapi aku… aku belum menemukan apa-apa.

Aku teringat para algojo di bawah kaki salib yang juga keliru memberi-Mu anggur asam ketika Engkau berseru lirih, “Aku haus.” Bunda-Mu yang berdiri di bawah salib tidak bergeming sedikit pun. Ia hanya merunduk dalam duka yang mendalam. Aku yakin Bunda lebih mengerti apa yang Kaukehendaki, sebab sepanjang hidup-Mu, Bunda selalu berjalan bersama-Mu.

Izinkan aku bersimpuh di sini saja, di bawah kaki salib-Mu. Berada bersama-Mu dalam duka-Mu yang tak terlukiskan. Aku pun datang tanpa membawa apa-apa, sebab aku memang tidak mempunyai apa pun. Aku juga tidak pernah menduga akan mendengar permintaan-Mu itu.

Biarkan aku memandang-Mu saja, ya Tuhanku dan Allahku. Engkau tahu, memandang-Mu sejenak saja tidaklah mudah bagiku. Saat melihat Engkau menderita, lemah, lunglai, dan tak berdaya, aku takut mendekati-Mu. Izinkan aku memandang dari jauh saja.

Begitu banyak orang yang tadinya mengikuti-Mu, kini telah pergi. Yang tersisa hanyalah kengerian, kekerasan, keganasan, kebrutalan, dan kejahatan. Ada darah, ada luka, ada kesakitan, ada duka. Namun semuanya sunyi. Hampir tak seorang pun berani membela-Mu, atau sekadar menemani-Mu. Hanya Bunda-Mu, murid yang Kaukasihi, dan beberapa perempuan yang tetap bertahan.

Aku pun takut. Namun aku juga ingin berada di sini.

Hatiku hancur ketika mendengar suara-Mu, “Aku haus.” Namun aku tidak dapat melakukan apa pun untuk-Mu. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Kasihanilah aku yang tak berdaya ini. Aku memilih menemani-Mu sampai saat terakhir, dalam diamku. Ampunilah aku yang belum memahami bagaimana seharusnya mencintai-Mu dan melayani-Mu, terlebih ketika Engkau berseru, “Aku haus.”

Tuhanku dan Allahku, meskipun dalam sengsara-Mu yang hebat mata-Mu hampir terkatup, aku percaya Engkau tetap melihatku di sini. Meski berkali-kali aku merasa tidak layak berada di kaki salib-Mu, hatiku tahu bahwa Engkau tidak pernah menolakku.

Aku ada di sini, Tuhan… bersama-Mu.
Dan lihatlah, di belakangku ada begitu banyak orang yang juga seperti aku; duduk, diam, dan terpekur di hadapan-Mu.

Tuhanku dan Allahku, Engkau yang hanya sesaat berseru, “Aku haus,” telah memancarkan sumber air hidup yang terus mengalir tanpa henti kepada setiap jiwa dan kepada seluruh dunia.

Aku memilih duduk dan menunggu di sini, di bawah kaki salib-Mu, dengan dahaga akan kasih-Mu yang kiranya tidak akan pernah terpuaskan sampai akhir hayatku.

Yesusku… maafkan aku.
Hari ini aku pun ingin berseru kepada-Mu, di bawah kaki salib-Mu:
“Tuhanku dan Allahku… aku haus.”

Yesus, Engkau andalanku