Ya Yesusku, dalam segala situasi hidupku aku ingin menderita dan dibakar dengan nyala kasih-Mu. Aku ini milik-Mu, sepenuhnya milik-Mu, dan aku ingin lebur di dalam Engkau.

Ya Yesus, aku ingin lenyap di dalam keindahan ilahi-Mu. Dengan kasih-Mu, ya Tuhan, Engkau memburu aku. Engkau meresapi jiwaku laksana seberkas sinar matahari dan mengubah kegelapannya menjadi terang-Mu. Aku merasakan dengan jelas bahwa aku hidup di dalam Engkau laksana percikan api yang kecil ditelan oleh kobaran api yang tak terlukiskan, yang menyala dalam diriku, ya Tritunggal yang tak terselami.

Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada sukacita orang yang mengasihi Allah. Sudah sejak di dunia ini kita dapat mengecap kebahagiaan penghuni surga lewat kesatuan mesra dengan Allah, lewat kesatuan yang luar biasa dan sering kali sama sekali tidak dapat kita pahami. Lewat kepatuhan jiwa yang tulus, orang dapat memperoleh rahmat yang sama. BHF 507

“Aku ini milik-Mu, sepenuhnya milik-Mu dan aku ingin lebur di dalam Engkau.” Doa indah Faustina, yang dengan sadar secara penuh menyadari siapakah dirinya di hadapan Tuhan. Ya… Tuhanlah yang memilikinya, yang menciptakan, memelihara, menganugerahkan segalanya, memanggil, memilihnya secara istimewa dan mengutusnya. Sungguh, hidupnya milik Tuhan, maka semuanya untuk Tuhan.
Faustina rindu melebur sepenuhnya, seutuhnya dalam Tuhan karena Tuhanlah yang memilikinya.

Merenungkan BHF 507 ini mengingatkan aku kembali bahwa aku adalah milik Tuhan sepenuhnya, seutuhnya. Hidupku untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Merenungkan ini aku ingat ada umat yang pernah berkata kepadaku tentang hal yang membedakan dirinya dan diriku. Katanya, “Kalian para imam, biarawan-biarawati itu milik Tuhan. Kami awam bukan milik Tuhan, melainkan milik pasangan hidup kami.” Saya cukup terkejut karena tak pernah berpikir seperti itu. Bagiku, semua kita adalah milik Tuhan, diciptakan oleh Tuhan, dicintai dengan cinta yang besar, dan dianugerahi segala rahmat serta anugerah. Soal panggilan hidup yang dijalani memang berbeda, tetapi semuanya tetap milik Tuhan. Mungkin karena kurang paham, orang ini menganggap dirinya bukan milik Tuhan. Aku berdoa agar orang itu sadar bahwa hidup ini sesungguhnya milik Tuhan. Kita bukan milik manusia, milik seseorang, atau apalagi milik dunia ini.

Kadang saya berpikir, barangkali kurangnya pemahaman seperti ini membuat orang tidak tahu harus bagaimana mengatur dan mengarahkan hidupnya yang singkat ini, sehingga hidup hanya diarahkan pada yang fana dan bukan pada yang kekal.
“Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup maupun mati, kita adalah milik Tuhan.” (Rm 14:8). Sungguh luar biasa kesadaran Faustina ini. Karena hidupnya adalah milik Tuhan, maka yang diusahakannya adalah mengasihi Tuhan. Faustina merasakan bahwa mengasihi Tuhan adalah sukacitanya yang terbesar. Dan jika demikian, ia telah mengecap kebahagiaan surga sejak di dunia ini.

Satu hal yang menggelitik hatiku, jika aku sungguh sudah menyadari bahwa hidupku sepenuhnya milik Tuhan, adakah kerinduanku juga untuk bersatu dan melebur dengan Tuhan yang memilikiku, dengan terus berusaha sungguh-sungguh mengasihi-Nya? Faustina memberi petunjuk yang sangat jelas: “Lewat kepatuhan jiwa yang tulus, orang dapat memperoleh rahmat yang sama.”
Sungguh besar kasih dan kebaikan Tuhan yang dengan segala cara berusaha agar setiap jiwa milik-Nya patuh pada-Nya, mengasihi-Nya, dan memperoleh sukacita di dalam Dia. Faustina dan BHF-nya menjadi salah satu tawaran indah untuk belajar bagaimana seharusnya menjadi seorang yang sungguh milik Tuhan. Sangat tepat SKR ini, tempat untuk belajar.
Yesus, Engkau andalanku.