Ya Yesusku, meskipun rahmat-Mu begitu banyak, aku menyadari dan merasakan semua kepapaanku. Aku memulai hariku dengan pertempuran dan mengakhirinya juga dengan pertempuran. Begitu aku mengatasi suatu tantangan, sepuluh tantangan yang lain muncul menggantikan tempatnya.

Tetapi, aku tidak takut karena aku tahu bahwa inilah saat pertempuran, bukan saat damai.

Ketika beban pertempuran menjadi terlalu berat di suhu dingin, aku menghempaskan diriku seperti seorang anak ke dalam pelukan Bapa surgawi dan berharap aku tidak akan binasa.

Ya Yesusku, betapa aku condong kepada kejahatan, dan ini memaksaku untuk terus-terusan waspada. Tetapi, aku tidak putus asa. Aku mengandalkan rahmat Allah yang berlimpah-limpah di tengah kepaaan yang paling memprihatinkan. • BHF 606

Ya Yesusku, betapa aku condong kepada kejahatan, dan ini memaksaku untuk terus-terusan waspada. Tapi aku tidak putus asa. Aku mengandalkan rahmat Allah yang berlimpah-limpah di tengah kepaaan yang paling memprihatinkan.”*

Merenungkan BHF 606, saya merasa Faustina begitu jujur ​​dengan pengalaman yang sangat manusiawi yakni kelemahan dan kepapaan. Ia sungguh sadar akan kecenderungan dan kecondongannya kepada kejahatan dan dosa, kepada cara hidup yang tidak mengutamakan kehendak Allah dalam berbagai bentuk, yang pada akhirnya merugikan Hati-Nya.

Faustina berani membayangkan semuanya di hadapan Tuhan. Suatu kenyataan akan kepapaannya sendiri. Namun menarik bahwa kesadaran akan kepapaan itu justru mendorongnya untuk terus-menerus waspada, berjaga-jaga agar tidak jatuh begitu saja ke dalam kelemahan yang sama tanpa usaha untuk berjuang. Ketika muncul kecondongan demikian, ia belajar untuk segera berlindung dalam Hati Tuhan, menghempaskan diri ke dalam pelukan Allah.

Ia sadar betul bahwa inilah pertempuran yang sebenarnya yakni terus-menerus berjuang melawan kecenderungan diri sendiri yang begitu mudah jatuh. Bagaimanapun kerasnya berusaha, ada saat lengah, ada saat lelah, sebab hari demi hari pertempuran itu terus berlangsung.

Akhirnya, satu-satunya jalan adalah mengandalkan Allah dengan segenap rahmat dan kasih karunia-Nya. Sebab dengan kekuatan sendiri, kenyataannya begitu rapuh.

Aku teringat akan diriku sendiri. Kadang-kadang untuk sebuah pekerjaan atau tanggung jawab, saya mampu berjuang sedemikian teguh dan ulet. Apa pun yang terjadi, saya berusaha keras agar memperoleh hasil yang baik. Tetapi anehnya, untuk sebuah pertempuran rohani, terkadang aku begitu mudah menyerah. Kurang berusaha, kurang berjaga-jaga, kurang waspada terhadap gerakan-gerakan kecil dalam diri saya sendiri.

Hari ini aku belajar dari Faustina yang begitu sadar bahwa pertempuran rohani datang silih berganti. Aku pun ingin belajar mempunyai kegigihan yang sama. Bukan untuk menjadi sempurna dengan kekuatan sendiri, tetapi untuk terus berjuang sambil mengandalkan rahmat Allah. Sebab kenyataannya aku tak bisa apa-apa.

Barangkali kemenangan dalam pertempuran rohani bukan berarti aku tidak pernah jatuh lagi. Kemenangan itu juga terjadi ketika setiap kali aku sadar kecondonganku, aku cepat-cepat kembali kepada Tuhan. Semakin cepat menghempaskan diri ke dalam pelukan-Nya dan memulai lagi. Itulah perjuangan abadi melawan diri sendiri dan mengandalkan rahmat Allah terus menerus, saat demi saat, selamanya.

Pada akhirnya, biarlah jiwaku sadar dan mengakui sepenuhnya bahwa bukan aku yang menang tapi sebenarnya Tuhanlah yang memenangkan aku dalam pertempuran itu dengan rahmat kasih dan kerahiman-Nya. Di menarik kekuasaan dan daya kasih kerahiman-Nya merengkuh, memelukku selamanya sejauh aku selalu mau datang, memanggil, bersujud, membenamkan kepapaan diriku di lautan kerahiman-Nya.
Yesus, Engkau andalanku.