Dengan kasih yang tak terselami Allah memeluk jiwa yang melaksanakan kehendak-Nya. Aku memahami betapa besarnya kasih Allah kepada kita, betapa sederhananya Ia meskipun tak terselami. Dan betapa mudahnya kita menyatukan diri dengan Dia meskipun keagungan-Nya begitu besar!

Tidak dengan seorang pun aku dapat menyatukan diri dengan begitu leluasa dan begitu mudah seperti aku menyatukan diri dengan Allah. Bahkan seorang ibu dan anaknya yang sungguh ia kasihi tidak dapat saling memahami seperti Allah dan aku.

Ketika aku berada dalam persekutuan dengan Allah, aku melihat dua sosok pribadi tertentu. Aku tahu situasi batin mereka. Mereka berada dalam situasi yang memprihatinkan, tetapi aku percaya bahwa mereka pun akan memuliakan kerahiman Allah.• BHF 603b

“Mereka berada dalam situasi yang memprihatinkan, tetapi aku percaya bahwa mereka pun akan memuliakan kerahiman Allah.” Aku sudah tertinggal membaca dan mengikuti BHF hampir dua minggu. Hari ini saya sangat tertarik dengan kalimat tersebut.
Ada satu kata kecil yang menurut saya menjadi pusatnya: yakni “aku percaya”.

Faustina melihat kenyataan yang memprihatinkan, tetapi ia tidak berhenti pada apa yang dilihatnya. Tampaknya ia tidak menyangkal kenyataan. Ia tahu situasi batin kedua orang itu. Barangkali mungkin buruk, sulit, atau secara manusiawi tidak memberi banyak alasan untuk berharap. Tetapi Faustina tetap percaya.

Yang menarik bagiku, ia tidak berkata: “Aku percaya mereka akan berubah.” atau “Aku percaya persoalan mereka akan segera selesai.” Ia berkata: “Aku percaya bahwa mereka pun akan memuliakan kerahiman Allah.”Ini jauh lebih dalam dan indah. Sungguh, dalam segalanya Faustina tetap.memandang dalam cara pandang Allah. Masih selalu ada harapan.

Faustina memandang kedua jiwa itu bukan hanya berdasarkan keadaan mereka sekarang, tetapi berdasarkan apa yang masih dapat dikerjakan Kerahiman Allah dalam diri mereka, selama mereka masih hidup dan membuka diri baginya.
Inilah barangkali cara Allah memandang manusia yang perlahan-lahan dipelajari Faustina karena persatuannya dengan Tuhan. Ia dapat melihat keadaan seseorang sebagai sesuatu yang memprihatinkan, tetapi tidak pernah menganggap orang itu selesai, tidak ada harapan lagi.

Ini sangat indah bagiku untuk merenungkan dalam kehidupan bersama. Kadang karena sudah terlalu mengenal seseorang : kelemahannya, kebiasaannya, kegagalannya, bahkan mungkin kesalahan yang terus berulang. Tanpa sadar bisa membuat kesimpulan konyol : “Memang dia begitu.” “Sulit berubah.” “Sudahlah…”

Faustina hari ini mengingatkanku:
Jangan membuat titik pada seseorang ketika Kerahiman Allah masih menulis kisah untuk setiap anaknya, apa pun keadaan mereka.
Mungkin suatu hari orang yang sekarang membuat kita prihatin justru akan menjadi saksi paling kuat tentang Kerahiman Allah, karena melalui hidupnya orang dapat melihat betapa besar karya agung Allah.

Maka iman Faustina bukan optimisme insani. Tetapi iman yang berpengharapan pada Allah sepenuh-penuhnya. Ia melihat dengan jernih: “situasinya memprihatinkan.” Tetapi sesudah melihat kenyataan, ia memilih melihat lebih jauh daripada kenyataan itu:“Aku percaya…”
Mungkin rhema hari ini bisa sangat sederhana: “Aku percaya bahwa mereka pun akan memuliakan kerahiman Allah.”

Yesus, Engkau andalanku.