Sekali waktu, ketika merenungkan ketaatan, aku mendengar kata-kata ini, Dalam renungan ini, secara khusus, imam ini(=RP P. Macewicz SJ) sedang berbicara untukmu. Ketahuilah bahwa bibirnya sedang Aku pinjam. Aku berusaha mendengarkan semua renungannya dengan penuh perhatian dan menerapkan segala sesuatu kepada hatiku sendiri, seperti dalam setiap meditasi. Ketika imam berkata bahwa jiwa yang taat akan dipenuhi dengan kekuasaan Allah…, Sungguh, apabila engkau taat, Aku mengambil kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan-Ku. Aku sangat heran bahwa jiwa-jiwa tidak mau melakukan pertukaran ini dengan-Ku. Aku berkata kepada Tuhan, „Yesus, terangilah hatiku sebab kalau tidak, aku pun tidak akan sungguh memahami kata-kata ini.

Kalimat Faustina hari ini menyentuh hatiku dan membuatku merenung lebih dalam. “Aku tidak bergerak mengikuti kemauanku sendiri sebab aku dibelenggu oleh rahmat; aku selalu memikirkan apa yang lebih berkenan di Hati Yesus.” Aku mencoba membayangkan keheningan itu. Bukan karena Faustina ragu atau bingung, tetapi karena ia sengaja menahan diri. Ia tidak ingin bergerak menurut dorongan hati sendiri. Ia memilih diam sejenak, memberi ruang bagi rahmat, sambil bertanya: apa yang lebih menyenangkan hati Yesus? Faustina berani melepaskan, menanggalkan kemauan sendiri, tidak sekedar karena usaha manusiawinya, namun lebih karena sadar bahwa rahmat Allah sepenuhnya melingkupinya. “Aku dibelenggu oleh rahmat”.

Aku sadar bahwa dalam hidup sehari-hariku, aku sering ingin segera bertindak, segera memilih, segera menyelesaikan sesuatu. Diam terasa tidak produktif. Padahal Faustina mengajarku bahwa ada saat-saat ketika tidak bergerak justru adalah bentuk ketaatan yang paling jujur.
Pertanyaan sederhana ini menegurku: bukan “apa yang kuinginkan”, bukan “apa yang paling nyaman”, tetapi apa yang lebih berkenan di Hati Yesus.

Aku belajar bahwa kasih murni kadang menuntut pengorbanan kecil yang tidak terlihat: menahan kata-kata, memilih berdoa daripada membela diri, atau mendahulukan orang lain saat aku sendiri lelah. Tidak selalu mudah, tetapi di situlah aku belajar mengasihi tanpa banyak alasan.
Hari ini aku ingin belajar berjalan lebih pelan, memberi ruang bagi rahmat ALLAH dan membiarkan pertanyaannya tinggal di hatiku, menggema dalam diam, merasuki hatiku dalam hening : “Tuhan, apa yang lebih berkenan di Hati-Mu hari ini?” Tuhan, ampuni aku, kalau aku gagal karena lalai bahkan lupa mengutamakan apa yang lebih berkenan di Hati-Mu.” Yesus, Engkau andalanku. *hm