Setiap pertempuran yang diperjuangkan dengan gigih akan mendatangkan bagiku sukacita, damai, terang, pengalaman, dan keberanian untuk menghadapi masa depan. Hormat dan kenuliaan kepada Allah akhirnya, bagiku tersedia suatu ganjaran. Hari ini adalah Pesta Kristus Raja.• BHF 499
Pertempuran yang diperjuangkan dengan gigih… BHF 499 ini singkat. Aku tertarik sekali untuk merenungkan “pertempuran” yang ditulis Faustina yg diperjuangkannya dengan gigih yang akhirnya membawa sukacita dan damai. Apa yang dimaksud dengan pertempuran? Dalam hal apa Faustina menyebutnya sebagai pertempuran? Apakah pekerjaan dan hidup sehari-hari dapat disebut sebagai pertempuran? Bukankah istilah pertempuran biasanya berkaitan dengan konflik atau peperangan? Maka ada pihak-pihak yang saling berhadapan dan berjuang untuk menang. Mungkinkah Faustina memandang bahwa setiap tantangan, kesulitan, hambatan, dan penderitaan merupakan sebuah medan pertempuran yang harus diperjuangkan dengan gigih supaya dapat dimenangkan? Lalu, Faustina sebenarnya bertempur melawan siapa?
Merenungkan ini, aku mulai memahami bahwa barangkali yang dimaksud Faustina bukanlah pertempuran lahiriah seperti yang kubayangkan, melawan siapa, pakai senjata apa, tetapi pertempuran batin dan rohani. Medannya bukan di luar sana tetapi di dalam jiwa. Kalau seperti ini, maka bisa jadi hidup sehari-hari adalah medan pertempuran itu sendiri. Misalnya saat harus memilih antara kehendakku atau kehendak Tuhan… saat lelah tetapi harus tetap tekun dan setia… saat terluka harus tetap berjuang ksrena memang dipanggil untuk tetap mengasihi… saat tidak mengerti jalan Tuhan tetapi tetap diminta percaya saja … di situlah pertempuran itu terjadi.
Faustina bertempur pertama-tama melawan diri sendiri yakni melawan ego, keinginan pribadi, rasa takut, dan keengganan untuk taat. Ini pertempuran yang paling nyata dan paling berat, karena terjadi diam-diam di dalam hati. Tidak ada yang tahu, selain diri sendiri dan Tuhan.
Ia juga bertempur melawan godaan—pikiran-pikiran yang meragukan Tuhan, yang melemahkan iman, yang perlahan mengajak untuk menyerah. Pikiran-pikiran yang berkecamuk itulah yang sering menjadi pintu masuk kekacauan jiwa. Yang sudah kita renungkan dalam beberapa BHF nomor sebelumnya beberapa hari belakangan ini. Dan tidak kalah berat, Faustina bertempur dalam kelemahan dan penderitaan baik fisik maupun batin. Namun pertempuran ini bukan dengan mengandalkan kekuatan diri, melainkan dengan bertahan dalam iman, tetap tinggal bersama Tuhan.
Merenung pertempuran yg dialami Faustina, aku jadi mengenali medan pertempuran dslam jiwaku saat ini. Konflik batin apa yg sedang aku alami. Apakah aku serius dengan gigih berjuang agar menang dalam pertempuran atau aku diam saja, menyerah, atau malah bernegosiasi untuk menghindari perjuangan? Aku semakin mengerti, bahwa setiap kesulitan dalam hidup bukan sekadar masalah biasa, tetapi bisa menjadi medan pertempuran rohani. Karena selalu berkaitan dengan perjalanan iman dan pergumulan rohani jiwaku. Bagaimana aku menyikapi semua peristiwa hidup yang terjadi dan kualami. Apakah aku nekat berjuang sendiri atau melibatkan Tuhan? Kalau aku benar beriman, pastilah aku akan sadar bahwa sesungguhnya setiap saat hidupku adalah saat untuk.memenangkan Tuhan dalam seluruh hidupku. Tuhan.dan kehendak-Nya yang harus aku perjuangkan, sebagaimana yang diteladankan Faustina dan ia menang.
Aku jadi makin sadar bahwa dalam pertempuran aku dipanggil untuk berjuang dengan gigih, bukan untuk menang menurut dunia(sehat, sukses, berhasil, makmur, sejahtera, bahagia, kaya, berkuasa, dll) , tetapi untuk tetap setia kepada Allah dalam segala keadaan. Maka benar apa yang ditulis Faustina bahwa setiap pertempuran yang diperjuangkan dengan gigih akan mendatangkan sukacita, damai, terang, pengalaman, dan keberanian untuk menghadapi masa depan.
Ya… karena dalam setiap pertempuran yang dijalani bersama Tuhan, jiwa tidak pernah dibiarkan kalah. Tentu melelahkan tetapi Kristuslah Raja yang telah menang. Pertanyaan untukku, apakah aku bertempur bersama Tuhan? Atau tunggu tak berdaya dan kalah, baru meminta bantuan Tuhan? Dalam banyak pengalaman hidup, ada saat-saat demikian. Namun, syukur kepada Allah, yang tak pernah membiarkan kita berjuang sendirian. Bahkan kadang saat tak merasa butuh pettolomgan Tuhan, bahkan mungkin tak ingat atau tak berdaya untuk.meminta pertolongan, Dia selalu ada..Karena Dialah Tuhan, sang penolong setia, Sang kebaikan sejati, Allah yang maha rahim, Kristus Raja yang tak terkalahkan, penguasa surga dan dunia, raja alam semesta.
Hatiku tahu, ketika aku tetap bertahan bersama-Nya, aku pun ikut mengambil bagian dalam kemenangan itu. Datanglah Tuhan dan berjalanlah bersama aku, dalam setiap langkah pertempuran jiwaku.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments