Kraków, 25 Oktober 1935 – KEPUTUSAN-KEPUTUSAN RETRET

* Tidak melakukan suatu pun tanpa izin bapak pengakuan dan tanpa persetujuan para superior dalam segala hal, khususnya dalam kaitan dengan ilham dan permintaan2 dari Tuhan.
* ⁠Semua waktu luangku akan aku gunakan bersama Tamu Ilahi dalam jiwaku; aku akan menjaga keheningan batin dan lahir sehingga Yesus dapat beristirahat dalam hatiku.
* ⁠Istirahatku yang paling menyenangkan adalah melayani dan mematuhi para suster, melupakan diriku sendiri, dan memikirkan bagaimana menyenangkan hati para suster.
* ⁠Aku tidak akan memberikan penjelasan untuk membela diriku sendiri atau berusaha mempertahankan diri kalau dikritik; aku akan membiarkan orang-orang lain menghakimi aku seturut kehendak mereka.
* ⁠Aku hanya memiliki satu Sahabat yang pantas dipercaya, yang kepada-Nya aku mempercayakan segala sesuatu, dan itu adalah Yesus-Ekaristi dan wakil-Nya- bapak pengakuanku.
* ⁠Di tengah semua penderitaan, baik jasmani maupun rohani, dan juga dalam kegelapan serta kesendirian aku akan tetap diam laksana seekor merpati, dan tidak mengeluh.
* ⁠Aku akan menghampakan diriku terus-menerus di bawah kaki-Nya untuk memperoleh kerahiman bagi jiwa-jiwa yang papa• BHF 504

Membaca keputusan-keputusan Faustina dalam BHF 504 yang sangat indah ini, bagiku semakin nyata bahwa kekudusan hidup dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang sederhana, yang diperbarui setiap hari dengan setia. Keputusan-keputusan kecil yang terus dilatih perlahan membawa transformasi diri. Faustina membuat keputusan-keputusan itu dalam suasana retret, saat ia mengalami banyak pengalaman rohani dan kedekatan dengan Allah. Namun, yang menarik bagiku, pengalaman rohani itu tidak berhenti hanya sebagai pengalaman yang indah dan menghibur hati. Semua itu diterjemahkan Faustina menjadi komitmen nyata untuk menata batin dan mengolah diri. Keputusan-keputusan ini bagiku merupakan perjuangan nyata bagaimana mengandalkan Allah dalam tindakan konkret sehari-hari.

Faustina ingin memiliki kebebasan batin yang semakin besar, supaya Allah memiliki tempat yang lebih luas, lebih leluasa, dan lebih bebas bekerja dalam dirinya. Maka, setiap keputusan yang ia tuliskan sebenarnya adalah latihan kasih, latihan penyerahan diri, dan latihan penghampaan diri.
Aku sangat percaya bahwa Faustina sungguh berjuang mewujudkan keputusan-keputusan itu dalam hidupnya sehari-hari dengan penuh sukacita. Sebab semuanya lahir dari hati yang tulus, ikhlas, dan mau berjuang bukan karena dipaksa siapa pun.
Karena itu, keputusan-keputusan ini bukan sekadar soal perasaan rohani, melainkan latihan untuk mengasihi Allah secara lebih nyata setiap hari. Perlahan-lahan, jiwa dilatih untuk tidak lagi dikuasai oleh diri sendiri, tetapi semakin memberi ruang bagi Allah untuk memimpin hidup sepenuhnya.

Sedikit berbagi pengalaman pribadi. Saat beberapa tahun lalu aku mulai secara serius membaca BHF, aku sangat terkesan dengan keputusan-keputusan Faustina ini dan merasa sangat dicerahkan. Diam-diam aku mencoba melatih beberapa hal yang memang seharusnya kupelajari dengan sungguh-sungguh. Aku memang tidak sedang retret waktu itu, tetapi membaca BHF sendiri terasa seperti sebuah retret bagiku. Keputusan-keputusan Faustina menjadi semacam rekoleksi pribadi yang menegur sekaligus membimbing diriku.

Dan kali ini, ketika membaca ulang BHF 504, aku kembali diingatkan dan bertanya kepada diriku sendiri: bagian mana saja yang mulai bertumbuh dalam diriku? Aku merasakan bahwa jika dilatih dan dijalani dengan serius, benar adanya bahwa semuanya perlahan menghasilkan buah. Awalnya memang terasa sulit, tetapi berkat rahmat Tuhan, sedikit demi sedikit ternyata menjadi mungkin.
Ada situasi tertentu, persoalan tertentu, bahkan pergumulan batin tertentu yang ternyata dapat dijalani lebih tenang karena latihan-latihan kecil yang pernah kupelajari dari keputusan sederhana Faustina. Aku semakin sadar bahwa hidup rohani memang dibangun dari kesetiaan pada hal-hal kecil yang terus-menerus dilatih.
Faustina doakan aku Yesus Engkau andakanku.