JUMAT, PEKAN BIASA IX, PERINGATAN WAJIB ST. BONIFASIUS, USKUP DAN MARTIR
2Tim 3:10-17; Mzm 119:157.160.161.165.166.168; Mrk 12:35-37

Hari ini Gereja memperingati St. Bonifasius, seorang uskup dan martir yang dikenal sebagai “Rasul Jerman.” Ia mewartakan Injil dengan keberanian, meski menghadapi banyak tantangan, hingga akhirnya menyerahkan nyawanya demi Kristus. Bacaan liturgi menegaskan pentingnya kesetiaan pada Firman Allah dan keberanian untuk bersaksi di tengah dunia.
Yesus memberikan sebuah tantangan bagi para ahli Taurat. Bagaimana mereka dapat mengatakan bahwa Mesias adalah Anak Daud. Padahal Daud sendiri mengakui bahwa Dia adalah tuannya. Melalui tantangan ini, setiap orang beriman justru disadarkan dan ditantang untuk lebih dalam lagi menyelami imannya, bukan hanya sekadar mengakui Yesus sebagai Mesias, melainkan lebih lagi dari itu, yaitu sebagai Anak Allah. Tantangan seperti ini menuntut komitmen yang teguh dalam kesetiaan iman.

Kepada Timotius, Paulus mengingatkan pentingnya kesetiaan untuk melaksanakan tugas perutusan yang diembannya. Kesetiaan untuk melaksanakan tugas perutusan secara tegas tetapi sabar akan mengakibatkan penderitaan yang tidak ringan. Itulah sebabnya, ia diingatkan akan pentingnya: pendirian, iman, kesabaran, dan ketekunan. Dasar dari semua ini adalah kesetiaan untuk berpegang pada kebenaran iman akan Yesus Kristus sebagai Anak Allah.
St. Bonifasius, artinya yang mujur, adalah contoh hidup beriman yang setia, berani dalam kebenaran dan kebaikan iman. Dalam usia tuanya, ia mati membela imannya secara berani dan setia.

Sejauh mana aku telah membangun komitmen imanku dalam kesetiaan imanku akan Yesus sebagai Anak Allah? Apakah aku telah setia untuk berpegang pada kebenaran imanku?
Hari ini kita belajar dari St. Bonifasius: kesetiaan pada Firman Allah, keberanian bersaksi, dan pengakuan bahwa Kristus adalah Tuhan. Seperti Bonifasius, kita pun dipanggil untuk menjadi saksi iman yang teguh, meski menghadapi tantangan dan penolakan.Mari membangun komitmen iman kita dalam kesetiaan iman akan Yesus sebagai Anak Allah. Mari setia berpegang pada kebenaran iman di dalam setiap peristiwa hidup kita. Mari belajar kesetian dan keberanian pada St. Bonifasius.
Tuhan memberkati.*RD AMT