Merenung Injil hari ini  Markus 1 : 40 – 45, menghadirkan wajah Yesus yang sangat manusiawi sekaligus ilahi. Ia tergerak oleh belas kasih ketika seorang yang sakit kusta datang kepada-Nya. Tanpa ragu, Yesus mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Sebuah tindakan yang melampaui batas sosial dan religius, karena menyentuh orang kusta berarti menanggung risiko: dikucilkan, disalahpahami, bahkan ditolak. Saya meyakini bahwa belas kasih Tuhan bukanlah kasih yang aman dan tanpa konsekuensi. Kasih itu berani mendekat, berani menyentuh, dan berani menanggung risiko. Yesus tahu bahwa tindakan-Nya bisa membawa akibat, namun Ia tetap memilih untuk mengasihi.

Yang menarik, setelah orang itu disembuhkan, ia justru tidak menaati pesan Yesus untuk diam. Akibatnya, Yesus tidak lagi dapat masuk kota secara terbuka. Secara manusiawi, ini bisa menimbulkan kekecewaan atau kemarahan. Namun Injil tidak mencatat bahwa Yesus menegur dengan keras atau menarik kembali belas kasih-Nya. Tidak. Yesus tidak marah.  Ia tidak menyesali kasih yang telah diberikan. Ia tidak menghentikan karya-Nya. Yesus tetap melakukan apa yang menjadi bagian-Nya: yakni mengasihi, menyembuhkan, dan melanjutkan perutusan, meski harus menyingkir ke tempat-tempat sunyi.

Kisah Injil ini menyentuh saya secara mendalam. Betapa sering saya berharap bahwa setiap tindakan kasih akan selalu dibalas dengan sikap yang tepat. Namun Injil  ini mengajarkan bahwa kasih sejati tidak bersyarat pada respons manusia. Kasih sejati tetap setia, meski disalahpahami atau tidak direspon dengan baik dan benar. Belas kasih Tuhan tidak berhenti karena ketidaktaatan manusia. Ia tetap bekerja, tetap hadir, dan tetap setia pada misi-Nya. Yesus mengasihi bukan karena orang lain selalu benar, tetapi karena itulah siapa Dia.Hal ini mengajak  dan meyakinkan saya untuk tetap belajar mengasihi dengan cara Yesus antara lain melakukan bagian saya dengan setia, tanpa mengontrol hasil,dan tanpa kehilangan damai meski kasih itu menuntut pengorbanan.