SABTU PRAPASKAH II
Mi. 7:14-15,18-20; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Luk.15:1-3.11-32.

Mewakili umat, nabi Mikha mengakui kelemahan dan kerapuhan, kesendirian dan kesepian manusia di hadapan Allah. Akibat dosanya manusia menjadi terpencil dan terasing di hadapan Allah. Harapan dan kepastian hidup manusia hanya ada pada Allah. Kasih dan kesetiaan Allah menjadi jaminan bagi manusia untuk bangkit kembali kepada kerahiman dan cinta kasih Allah.

Kisah belas kasih sang bapak kepada kedua anaknya adalah gambaran yang sangat jelas tentang belas kasih Allah bagi setiap manusia yang adalah anak-anak-Nya. Jalan pertobatan si bungsu adalah jalan yang harus ditempuh oleh setiap orang di hadapan belas kasih dan kerahiman Allah. Jalan si sulung adalah peringatan bagi setiap orang akan kepatuhan dan ketaatan lahiriah yang tidak memberikan daya dari dalam batin.

Bagaimana relasiku dengan Allah? Apakah aku meyakini Allahku sebagai Bapa yang maharahim dan berbelas kasih? Bagaimana sikap tobat yang telah aku bangun?
Mari bercermin pada si bungsu dan si sulung untuk mengimani Allah Bapa yang selalu berbelas kasih untuk membangun kembali sikap tobat dari lubuk hati kita.
Tuhan memberkati. ( RD AMT)