Pada suatu kesempatan, aku merasakan suatu dorongan untuk mulai bertindak dan mewujudkan apa saja yang diminta Allah dariku. Aku masuk ke kapel sejenak dan mendengar suatu suara di dalam jiwaku yang berkata, Mengapa engkau takut? Apakah engkau pikir Aku tidak memiliki kemahakuasaan yang cukup untuk menopangmu?
Pada saat itu jiwaku merasakan kekuatan yang luar biasa, dan segala penderitaan yang dapat menimpa aku dalam melaksanakan kehendak Allah tampak bukan apa-apa bagiku. • BHF 527
“Segala penderitaan yang dapat menimpa aku dalam melaksanakan kehendak Allah tampak bukan apa-apa bagiku.” Sesudah Faustina mendengar kalimat peneguhan Yesus dalam jiwanya, ia memperoleh kekuatan yang luar biasa untuk siap melaksanakan kehendak Allah.
Kalimat itu bergema dalam hatinya saat ia berdoa, masuk ke kapel, dan tenggelam dalam keheningan. Ya, kapel, ruang doa, dan gereja adalah tempat Tuhan bersemayam. Tempat jiwa kembali mendengarkan suara-Nya di tengah pergulatan batin.
Aku yakin Faustina sungguh diteguhkan dan dicerahkan oleh pertanyaan Yesus:
“Apakah engkau pikir Aku tidak memiliki kemahakuasaan yang cukup untuk menopangmu?” Menarik bagiku bahwa sesudah mendengar pertanyaan itu, Yesus tidak mengatakan bahwa penderitaan akan diambil darinya. Penderitaan tetap ada dan tetap menantinya.
Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Faustina yakni cara pandangnya (pikiran) dan hatinya.Segala penderitaan yang sebelumnya tampak besar, menakutkan, dan berat, menjadi kecil di hadapan kebesaran Allah yang menopangnya. Benar dan aku alami.. Sering kali bukan penderitaan yang membuat aku lemah, tapi bayangan tentang penderitaan itu. Belum menderita, belum terjadi apa-apa sudah takut. Belum alami kesulitan, sudah cemas membayangkannya. Belum juga memikul salib, tetapi sudah merasa tidak kuat. Kalah sebelum perang.
Namun setelah berjumpa dengan Tuhan, fokusnya tidak lagi tertuju pada penderitaan yang akan datang, melainkan pada Allah yang akan menyertai, menopang dan menyelesaikannya baginya. Aku ingat SKR kemarin, “Tataplah Aku” Sabda Yesus kpd Faustina benar adanya.. Ketika mata tertuju pada penderitaan, salib tampak sangat besar. Tetapi ketika tatapan mata tertuju pada Tuhan, salib itu tampak seperti biasa.
Faustina mampu menjalani begitu banyak penderitaan, karena lebih mengandalkan kepada Tuhan yang menopangnya. Aku bertanya kepada diriku sendiri, mana yang lebih sering kupandang? Penderitaanku atau Tuhan yang menopangku? Kesulitanku atau kemahakuasaan Allahku.
Aku ingat, ” Segala.perkara dapat kutanggung dlaam Dia yg memberi kekuatan padaku.”. Kalau ada Tuhan, bersama Tuhan, diteguhkan oleh Firman Tuhan, segala derita bukanlah apa-apa..
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments