Terpujilah Allah!
O Tritunggal yang kudus, dalam Dikau terkandung kehidupan batin Allah: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Engkau sukacita yang kekal, lubuk kasih yang tak terselami, yang mengalir atas segala makhluk dan membahagiakan mereka. Hormat dan kemuliaan bagi nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Ketika aku merenungkan keagungan dan keindahan-Mu, ya Allahku, aku bersukacita luar biasa bahwa Tuhan yang aku sembah begitu agung. Dengan kasih dan sukacita, aku melaksanakan kehendak-Nya. Dan semakin dalam aku mengenal Dia, semakin besar keinginanku untuk mengasihi-Nya. Semakin hari hatiku semakin dikobarkan oleh keinginan untuk mengasihi-Nya. • BHF 525

“Engkau sukacita yang kekal, lubuk kasih yang tak terselami, yang mengalir atas segala makhluk dan membahagiakan mereka.” Aku sangat tertarik merenungkan doa pujian Faustina kepada Allah Tritunggal kudus yang menjadi sumber sukacita, kasih dan kebahagiaan. Faustina tidak mengatakan bahwa Allah memberi sukacita, tetapi Faustina mengakui bahwa Allah sukacita yang kekal. Sukacita itu bukan sesuatu yang berasal dari luar Allah tetapi sukacita adalah Allah sendiri. Terpujilah Tritunggal maha kudus, sumber sukacitaku.

Aku bertanya diri, sukacita yang seperti apa berasal dari Allah? Tentu bukan kesenangan yang biasanya dicari manusia. Kesenangan bergantung pada keadaan seperti ketika berhasil, dipuji, sehat, memiliki banyak hal, maka orang merasa senang.

Tetapi sukacita Allah tetap ada bahkan ketika hidup mungkin sedang sulit, saat harus berjuang, saat harus menanggung penderitaan, bahkan dirundung kemalangan atau duka. Seperti yang kita baca dan ketahui dari
kehidupan para kudus, termasuk Faustina. Hidupnya tidak mudah. Ia sakit, ditolak, diragukan, mengalami penderitaan lahir dan batin. Namun ia tetap dapat berkata bahwa Allah adalah sukacitanya. Sukacita karena hidup bersama Allah. Hidup dalam Allah dan kehendsk kudus-Nya.

Aku ingat sabda Yesus: “Aku mengatakan semuanya itu kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yohanes 15:11). Yesus memberikan sukacita-Nya sendiri, yang bersumber dari kasih Bapa yang tak terselami. Dalam Tuhan, aku boleh bersukacita karena masih diberi hidup, masih diberi kesempatan bertobat. Bersukacita karena dosaku selalu diampuni, bersukacita karena aku dicintai dengan kasih yang kekal yang mengalir dari lubuk kasih-Nya yang tak terselami.

Merenung keagungan kasih Allah aku tertegun, dan bertanya, bagaimana seharusnya responsku atas sukacita yang dilimpahkan Allah kepadaku? Jawaban sederhana: bersyukur, memuji, dan semakin mengasihi-Nya. Persis seperti Faustina yang berkata bahwa semakin ia mengenal Allah, semakin besar keinginannya untuk mengasihi-Nya. Inilah ungkapan syukur yang indah. Sukacita sejati selalu melahirkan rasa syukur, dan kasih yang mendalam dan nyata.

Aku belajar untuk memberi lebih banyak waktu merenung keagungan kasih Allah, memuji dan bersyukur, dari pada fokus pada kelemahan dan dosaku. Allah begitu amat sangat baik, maha murah hati, maha kasih dan begitu setiia. Saya percaya dengan itu, aku dimampukan untuk makin bertumbuh dalam kasih, menemukan sukacita sejati dalam kehadiran-Nya yang selalu menyertai perjalanan hidupku..Yesus, Engkau andalanku.