Tanggal 14.(11.1935) Kamis ini, ketika kami melaksanakan adorasi malam, mula-mula aku tidak dapat berdoa; sejenis kegersangan melanda hatiku. Aku tidak dapat bermeditasi mengenai sengsara Yesus yang pedih. Maka, aku meniarap dan menyerahkan sengsara Tuhan Yesus yang amat pedih itu kepada Bapa surgawi sebagai pendamaian untuk dosa seluruh dunia. Sesudah doa ini, ketika aku berdiri dan berjalan ke tempat berlutut, tiba-tiba aku melihat Yesus di samping tempat aku berlutut.
Tuhan Yesus menampakkan diri seperti baru saja didera. Dengan tangan-Nya, Yesus memegang pakaian putih; dengan itu, Ia mendandani aku. Sebuah tali Ia lilitkan pada pinggangku dan kemudian Ia mengenakan padaku mantol merah seperti yang pernah Ia kenakan dalam sengsara-Nya. Ia memasang pada kepalaku sebuah kerudung dengan warna yang sama, dan Ia berkata kepadaku, Beginilah engkau dan teman-temanmu akan didandani.
Hidupku sejak lahir sampai mati di salib akan menjadi model bagimu. Tataplah Aku dan hiduplah menurut apa yang engkau lihat. Aku ingin agar engkau membenamkan diri lebih dalam di dalam Roh-Ku dan memahami bahwa Aku lemah lembut dan rendah hati. BHF 526
“Hidup-Ku sejak lahir sampai mati di salib akan menjadi model bagimu. Tataplah Aku dan hiduplah menurut apa yang engkau lihat.” Yesus begitu mengasihi Faustina. Ia menyatakan bahwa hidup yang benar, yang pantas di hadapan Allah, adalah hidup yang meniru, meneladani, dan mengikuti jejak Kristus. Seluruh hidup-Nya menjadi model bagi Faustina.
Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Allah yang berinkarnasi. Ia rela mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia dalam segala hal kecuali dalam dosa. Ia lahir sebagai bayi kecil, hidup dalam keluarga Maria dan Yosef, bertumbuh dalam kepatuhan yang sempurna dan ketaatan total kepada Bapa.
Yesus yang menyerahkan seluruh hidup dan masa kecil-Nya dalam asuhan Maria dan Yosef. Yesus yang bertumbuh sebagaimana anak-anak lainnya. Yesus yang sejak kecil hidup dalam doa, mengikuti perayaan-perayaan keagamaan, dan setia kepada kehendak Bapa.
Yesus yang tidak luput dari pencobaan, tetapi menang atas semuanya. Yesus yang berkeliling sambil berbuat baik. Mengajar, mewartakan Injil, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan harapan, dan menghadirkan kasih Allah kepada siapa saja.
Yesus yang hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan. Yang memberi makan kepada yang lapar, menghibur yang berduka, membebaskan yang dirasuki setan, dan bergaul dengan para pendosa. Yesus yang tidak sakit hati ketika disalahmengerti tapi selalu mengampuni. Yesus yang tetap setia ketika dianggap tidak waras, ketika dituduh bekerja sama dengan Beelzebul, ketika ditolak dan tidak dipercaya.
Yesus yang tidak lari dari penderitaan, tetapi menerimanya dengan penuh kasih demi keselamatan manusia. Yesus yang disangkal, ditinggalkan, dan dikhianati oleh murid-murid-Nya sendiri.
Yesus yang tetap mendoakan musuh-musuh-Nya dan menjanjikan Firdaus kepada penyamun yang bertobat. Yesus yang telah memberikan segala-galanya demi keselamatanku. Yesus, Tuhan dan Juruselamatku.
Aku sadar dan sangat bersyukur karena memiliki Yesus. Lebih tepat lagi, Yesuslah yang memilih dan memiliki aku, yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Aku hanyalah seorang pendosa yang dipilih untuk diselamatkan dengan harga darah-Nya yang sangat mahal.
Aku teringat sabda Rasul Paulus:
“Walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri…” (Flp 2:6-8). Bagiku, inilah model yg ditawarkan kpd Faustina dna juga kepadaku.
Sungguh, Yesus yang sederhana, yang lemah lembut dan rendah hati.
Aku dipanggil setiap hari, bahkan setiap saat, untuk memandang dan menatap-Nya. Tataplah aku. Pandanglah aku. Bagaimana aku memahami undangan ini? Ya, inilah kontemplasi. Dengan memandang, aku dapat meihat semuanya, merasakan, mendengar, mengetahuo dan memahami. Kalau aku memalinhkan muka, tidak mau menatap, tentu meski tahu atau mendengar, aku tidak merasakan apa-apa.
Aku ingat…cinta tumbuh dari.pandangan pertama..dari mata turun ke hati. Sering memandang, selalu memandang, cinta bersemi di hati. Aku percaya kontemplasi bukan sekadar memandang atau menatap, tetapi dibawa masuk kembali ke dalam misteri yang sedang dilihat dengan mata iman, mengalami kembali kehadiran dan kasih-Nya yang tidak berkesudahan.
Saat membaca BHF 526 ini, hati dan pikiranku tertuju kepada-Nya. Tanganku menekan tuts-tuts keyboard, dan tanpa sadar air mata haru menetes deras. Ya, aku merasakan Tuhanku hadir dan hidup. Ada kesadaran, ada kedamaian, ada haru, ada sukacita.Terima kasih Yesus atas lawatan-Mu di akhir hari ini. Dan akhirnya aku sadar, saat aku baru mulai menatap-Nya, ternyata Dia sudah lebih dahulu memandangku. Ia menatapku dengan begitu dalam sampai ke lubuk hatiku.
Kini aku mengerti mengapa Yesus meminta Faustina untuk menatap-Nya. Sebab Yesus sendiri sangat rindu agar aku dan jiwa-jiwa memandang-Nya, mengenal-Nya, mengasihi-Nya, dan mengizinkan-Nya tinggal di dalam hati mereka.
Aku teringat sabda-Nya:
“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu.” (Mat 6:22).
Jika mataku selalu tertuju kepada Yesus, barangkali hidupku memancarkan terang kasih-Nya lebih cemerlang. Kasih yang penuh kerahiman, yang setiap hari dicurahkan-Nya ke dalam hatiku.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments