Pada petang hari terakhir dari novena di Ostra Brama, sesudah litani dilagukan, salah seorang imam mentahtakan Sakramen maha kudus dalam monstransi. Ketika ia memajangnya di altar, tiba-tiba aku melihat Bayi Yesus. Ia mengulurkan tangan-Nya, mula-mula ke arah ibu-Nya yang pada waktu itu menampakkan diri secara nyata.
Ketika bunda Allah berbicara kepadaku, Yesus mengulurkan tangan-Nya yang mungil ke arah umat yang terhimpun. Bunda kudus menyuruh aku menerima semua yang diminta Allah dariku seperti seorang anak kecil, tanpa mempertanyakannya; kalau tidak, Allah akan merasa kecewa.
Pada saat itu, Bayi Yesus menghilang, dan Bunda Allah pun kembali menghilang dan gambarnya menjadi sama seperti sebelumnya.
Tetapi, jiwaku dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan yang besar, dan aku berkata kepada Tuhan, „Berbuatlah padaku seperti yang berkenan di hati-Mu, aku siap untuk segala sesuatu, tetapi Engkau, ya Tuhan, janganlah meninggalkan aku sedetik pun.” • BHF 529
Bunda kudus menyuruh aku menerima semua yang diminta Allah dariku seperti seorang anak kecil, tanpa mempertanyakannya.” Kalimat ini sangat menarik hatiku. Tampak betapa sayangnya Bunda Maria kepada Faustina, sampai memperhatikan dan mengingatkannya agar menerim semua yang diminta Allah darinya. Aku langsung teringat peristiwa perkawinan di Kana, ketika Bunda Maria berkata kepada para pelayan:
“Perbuatlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu.” (Yoh 2:5)
Pesannya mirip. Di Kana kepada para pelayan, dan di sini kepada Faustina, hanya dengan ungkapan yang berbeda. Hari ini, ketika membaca dan merenungkan BHF 529 ini, aku juga merasa bahwa Bunda Maria sedang menasihatiku: “Lakukanlah apa yang dikatakan kepadamu.” Bunda yang begitu dekat dengan anak-anaknya. Bunda yang peduli. Bunda yang memperhatikan perjalanan jiwa setiap anaknya.
Aku juga teringat kisah pada awal penglihatan itu. Bayi Yesus mengulurkan tangan-Nya pertama-tama kepada ibu-Nya sebelum kepada yang lain. Saat membacanya, aku langsung merasa seolah-olah Yesus sedang berkata kepadaku:
“Lihatlah, pandanglah, dan tataplah Bunda-Ku.”
Ya, sejak beberapa hari lalu, permintaan Yesus kepada Faustina, “Tataplah Aku,” masih begitu berkesan dan melekat dalam batinku.
Yesus sendiri, sejak hadir di dunia sebagai manusia, tentu pertama kali menatap wajah Bunda Maria, ibu-Nya. Dan selama bertahun-tahun, wajah penuh kasih itulah yang dilihat-Nya setiap hari. Demikian pula Bunda Maria sejak kelahiran-Nya selalu memandang wajah Putranya dengan cinta seorang ibu. Bagiku, ini menjadi undangan istimewa dari Yesus dan Bunda-Nya. Bukan hanya untuk menatap, tetapi terutama untuk melaksanakan apa saja yang dikehendaki Allah, seperti seorang anak kecil yang percaya kepada orang tuanya.
Bagian “tanpa mempertanyakannya” sangat penting bagiku. Sebab kadang, sebelum melakukan sesuatu, aku membutuhkan kejelasan. Aku ingin mengetahui arah, tujuan, alasan, latar belakang, bahkan kadang harapan hasil akhirnya. Akibatnya, pikiranku dipenuhi berbagai rancangan dan perhitungan. Ketika semuanya belum jelas, muncullah kecemasan, keraguan, bahkan ketakutan.
Aku merenung, jika demikian kapan aku sungguh mengandalkan Allah jika semuanya sudah jelas? Kapan aku belajar beriman?
Bukankah kesempatan terbaik untuk mengandalkan Allah justru ketika sesuatu belum jelas, tetapi tetap melangkah karena percaya dan berharap kepada-Nya? Memang tidak mudah, pada masa kini untuk lamgsung taat. Sudah tersedia banyak sarana dan teknologi membuat manusia merasa mampu mengendalikan segala sesuatu sendiri. Mungkin tidak bertanya, tapi searching untuk mencari tahu berbagai hal yang bisa jadi mengurangi keyakinan dan harapan untuk mengandalkan Allah seperti seorang anak kecil.
Aku harus terus belajar merendahkan diri. Harus selalu membutuhkan Tuhan dan mengandalkanNya dalam segala hal agar dapat melaksanakan kehendak-Nya. Belajar memiliki hati seorang anak kecil. Belajar percaya. Belajar menyerahkan diri.
Yesus, Engkau andalanku
Recent Comments