SETIAP JIWA MERUPAKAN SUATU DUNIA TERSENDIRI ( BHF 568a)
Hubungan Superior dengan Para Suster Superior hendaknya menonjol dalam kerendahan hati dan kasih kepada setiap suster tanpa membeda-bedakan. Ia tidak boleh membiarkan diri dikendalikan oleh sikap suka dan tidak suka, tetapi oleh semangat Kristus sendiri. Hendaknya ia...
DENGAN MEMATUHI SUPERIOR, KITA MEMATUHI ALLAH SENDIRI ( BHF 567b)
Para suster akan menyapa superior sebagai berikut: “Dengan perkenanmu (dalam bahasa Polandia: proszę Siostry Przełożonej yang searti dengan Permisi, Suster Superior*). Mereka tidak pernah boleh mencium tangannya, tetapi kapan saja mereka berjumpa dengan dia di lorong...
DALAM HUBUNGAN DENGAN PARA SUPERIOR, HENDAKNYA DITUNTUN OELH ROH IMAN ( BHF 567a)
Hubungan Para Suster dengan Superior Semua suster hendaknya menghormati superior seperti Tuhan Yesus sendiri, seperti yang kusebutkan ketika berbicara mengenai kaul ketaatan. Terhadapnya, mereka hendaknya bersikap dengan kepercayaan seorang anak, dan hendaknya tidak...
MATI RAGA BATIN MENDUDUKI TEMPAT PERTAMA ( BHF 565)
Tobat dan Mati Raga. Mati raga batin menempati tempat pertama, tetapi di samping ini, kita harus mengamalkan juga mati raga lahir yang ditentukan secara ketat sehingga semua orang dapat melaksanakannya. Mati raga dilaksanakan sebagai taruhanikut: pada tiga hari dalam...
Recent Comments