Tobat dan Mati Raga.  Mati raga batin menempati tempat pertama, tetapi di samping ini, kita harus mengamalkan juga mati raga lahir yang ditentukan secara ketat sehingga semua orang dapat melaksanakannya.

Mati raga dilaksanakan sebagai taruhanikut: pada tiga hari dalam setiap pekan, yakni Rabu, Jumat dan Sabtu, akan dilaksanakan puasa yg ketat; setiap Jumat semua suster – masing-masing di kamarnya sendiri – akan mencambuk diri sambil mendaras secara lengkap Mazmur 51, dan semua harus melaksanakan pada saat yang sama, yakni memukul tiga; mati raga ini akan dipersembahkan untuk orang-orang berdosa yang menghadapi ajal.

Dalam kedua puasa agung, hari-hari doa, dan vigili, makanan terdiri atas sepotong roti dan sedikit air, sekali sehari.  Hendaknya setiap suster berusaha mematuhi mati raga yang ditentukan bagi semua suster itu. Tetapi, jika ada yang ingin melakukan sesuatu yang lebih, hendaknya ia meminta izin kepada atasan.

Satu lagi mati raga umum: tidak seorang suster pun diperbolehkan masuk kamar suster lain tanpa izin khusus dari atasan, tetapi atasan hendaknya kadang-kadang masuk secara tak terduga ke kamar para suster, bukan untuk memata-matai tetapi dalam semangat kasih dan tanggung jawab yang ia emban di hadapan Allah.  Tidak seorang suster pun boleh mengunci pintu atau lemari; peraturan hendaknya menjadi kunci umum untuk semua  • BHF 565

Mati raga batin menempati tempat pertama…”  Semua bentuk mati raga lahiriah hanya mempunyai makna kalau lahir dari mati raga batin. Kalau tidak, bisa menjadi sekadar latihan fisik atau bahkan kebanggaan rohani semata. Yang terutama bukanlah puasa, bukan cambuk, bukan roti dan air.
Yang terutama adalah mati raga batin.

Apakah mati raga batin itu? Mungkin inilah perjuangan terbesar setiap murid Kristus seumur hidup antara lain: mematikan keinginan untuk ikut berkehendak sendiri, mematikan ego, kesombongan, kelekatan, rasa ingin dipuji, keinginan mau menang sendiri, atau dorongan untuk selalu menjadi yang pertama atau populer. Mati raga yang tidak tampak ini justru paling berat.

Mungkin bisa dilakukan beberapa jam, kita bisa menahannya. Tetapi mematikan ego harus diperjuangkan setiap saat, seumur hidup.
Beberapa bentuk mati raga lahiriah yang ditulis Faustina yang berlaku pada masanya, membantu membentuk hati yang taat, sederhana, dan bebas. Bukan penderitaan sendiri yang dicari, tetapi hati yang semakin terbuka bagi Allah.

Aku teringat sabda Yesus: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Injil Lukas:23). Barangkali, mencerminkan diri itulah mati raga batin yang paling sejati. Tidak mudah, namun pasti bisa dengan pertolongan rahmat Tuhan. Yesus, Engkau andalanku.