Hubungan Para Suster dengan Superior
Semua suster hendaknya menghormati superior seperti Tuhan Yesus sendiri, seperti yang kusebutkan ketika berbicara mengenai kaul ketaatan. Terhadapnya, mereka hendaknya bersikap dengan kepercayaan seorang anak, dan hendaknya tidak pernah menggerutu stau mencari-cari kesalahan dalam perintah-perintahnya karena hal ini sangat tidak menyenangkan Hati Allah.

Dalam hubungannya dengan para superior, setiap suster hendaknya dituntun oleh roh iman; hendaknya ia minta dengan jujur semua yang ia butuhkan. Allah tidak menghendaki bahwa terjadi atau terulang kembali salah seorang suster menjadi penyebab dukacita atau air mata superior. Hendaknya setiap orang tahu bahwa setiap biarawati diwajibkan menghormati superiornya seperti seorang anak harus menghormati orang tuanya sebagaimana diwajibkan oleh perintah keempat. Hanya seorang biarawati yang tidak baik yang merasa bebas menghakimi superiornya.

Hendaknya para suster jujur terhadap superior, dengan mengatakan segala sesuatu kepadanya dan memberitahukan segala kebutuhannya dengan kepolosan anak-anak.   • BHF 567a

Dalam hubungannya dengan para superior, setiap suster hendaknya dituntun oleh roh iman.” Faustina tidak hanya berkisah tentang hormat kepada superior, tetapi terutama tentang roh iman yang mesti dibangun dalam kaitan relasi dengan para superior. Dengan roh iman, seorang suster belajar melihat lebih dalam daripada sekedar melihat pribadi seorang superior. Ia harus belajar sungguh-sungguh percaya bahwa Allah dapat berkarya melalui orang yang dipercayakan untuk memimpin, meskipun ia tetap seorang manusia yang sudah pasti memiliki keterbatasan

Faustina bahkan mengajak setiap suster memiliki kepercayaan seorang anak. Seorang anak tidak hidup dalam kecurigaan terhadap orang tuanya. Anak selalu percaya penuh pada mereka. Ia datang, hadir dan melayani dengan hati yang sederhana, jujur, dan terbuka. Demikian pula seorang suster dipanggil untuk mengutarakan kebutuhan, kesulitan, bahkan pergumulannya dengan tulus.

Hati yang dipenuhi roh iman akan lebih mudah percaya daripada curiga. Lebih mudah taat pada membantah atau memberontak. Lebih mudah mendengarkan dari pada memghakimi. Aku merasa, yang ingin dibangun Faustina bukan sekadar ketaatan lahiriah, tetapi sebuah relasi yang dilandasi iman dan kepercayaan. Hati yang percaya mampu hidup dalam damai. Sebaliknya, saat roh iman mulai pudar, hati mudah dipenuhi penilaian, kecurigaan, keluhan, pemberontakan , penghakiman.

Indah SKR hari ini. Aku diingatkan bahwa roh iman bukan hanya membantuku melihat Allah dalam doa, tetapi juga melihat karya-Nya yang agung, penuh kebaikan dan kasih melalui orang-orang yang ditempatkan-Nya dalam perjalanan hidupku. Yang dipercayakan untuk mendidik, membina, memberi teladan, menemani perjalanan hidupku sampai akhir.

Aku ingat, mereka menjadi superior, bukan keinginan, kehendak atau ambisi mereka, tetapi mereka “dipilih” melalui proses dircerment dan diimani bahwa Tuhan sendiri yang memilih, betapa pun sederhana atau menurut ukuran kita mungkin kurang layak. Tapi, Tuhan yang berdaulat penuh, memilih siapa yang dikehendaki-Nya menurut kebijaksanaan kasih-Nya. Siapa berani melawan orang yang diurapi Tuhan? Tugasku adalah patuh, taat, mendoakan mereka dan berjuang agar kehendak Allah untuk diriku makin nyata terlaksana melalui mereka.
Yesus, Engkau andalanku.