Pada Pesta Bunda Allah Dikandung Tanpa Noda, dalam misa kudus, aku mendengar gemerisik pakaian dan aku melihat Bunda Allah Tersuci dalam semarak cahaya yang amat indah. Pakaiannya putih dengan ikat pinggang biru.
Ia berkata kepadaku, Engkau memberiku sukacita yang besar ketika engkau menyembah Tritunggal kudus karena rahmat dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku. Dan, serta merta ia menghilang. • BHF 564
“Engkau memberiku sukacita yang besar ketika engkau menyembah Tritunggal Kudus karena rahmat dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku.” Bunda tidak meminta dihormati karena keistimewaannya. Bunda justru bersukacita ketika Faustina memuliakan Tritunggal Maha kudus atas semua rahmat yang telah diterimanya. Betapa Bunda Maria begitu rendah hati. Bunda tidak mengambil sedikit pun kemuliaan bagi dirinya. Semua untuk kemuliaan Allah.
Seluruh hidupnya menjadi jalan yang mengantar jiwa-jiwa kepada Allah. Demikian juga Faustina. Tampak bahwa seluruh kisahnya dakam BHF bukan kisah tentang dirinya, tapi tentang karya kasih, kebaikan dan kerahiman Allah. Saya kira, Faustina akan bersukacita kalau aku ygan baca BHF bukan hanya sekedar kagum pada Faustina saja tetapi terutama selalu bersyukur kepada Tuhan yang maha rahim.
Aku memahami bahwa setiap rahmat yang kuterima pun seharusnya berakhir pada pujian kepada Allah, bukan kepada diriku sendiri. Sama seperti Bunda Maria dan Faustina..karena apa yang dapat mereka lakukan dan kerjakan adalah tertuju kepada Allah. Saya sering merenung, untuk apa aku membaca BHF, merenung, menulis dan berbagi? Untuk diriku atau kemuliaan Tuhan. Semua harus tertuju pada Tuhan,untuk kemuliaan Tuhan dan demi kesejahteraan dan keselamatan jiwa-jiwa. Aku harus selalu berjuang memurnikan motivasi dasar ini agar tidak menyimpang.
Talenta, keberhasilan, panggilan hidup, kesempatan melayani, bahkan mungkin kesalehan atau kesucian , semuanya adalah anugerah. Tidak ada yang pantas dibanggakan. Semuanya berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Inilah yang barangkali membuat hati Bunda Maria bersukacita: ketika Faustina, juga semua anak-anaknya belajar memandang melampaui dirinya dan memuliakan Allah yang menjadi sumber segala rahmat.
Kalau Bunda Maria saja begitu merendahkan diri dan bersukacita ketika syukur diarahkan kepada Allah, siapakah aku ini yang tak ada apa-apanya. Kadang, pujian, sanjungan, bahkan ucapan terima kasih dari sesama menjadi beban tersendiri dalam batin. Rasanya baru buat sedikit tapi diberi “penghormatan luar biasa.’ Kadang bisa terbersit dalam pikiran, mau buat sesuatu untuk Tuhan, tapi sudah tersandung dengan sanjungan sesama. Mau bertindak dalam diam dan tersembunyi biar Bapa di surga membalas yang tersembunyi, tahu-tahu ada yang sudah viralkan. Sering tidak sesuai kenyataan. Sungguh besar godaan di dunia ini, untuk kemuliaan diri. Kalau sumbernya bukan dari diri sendiri yang pamer entah secara langsung atau tidak langsung, ada orang lain pula.
Kisah Bunda dan Faustina hari ini sungguh menginspirasi aku, agar tetap sederhana dan rendah hati. Aku juga harus berhati-hati agar pujianku tidak membuat orang lain tersandung, juga aku berdoa agar aku kuat untuk tidak tersandung saat dipuja-puji yang sebenarnya tak layak diterima. Andaikan semua jiwa di dunia ini tahu bahwa semua hanya untuk kemuliaan Allah, tak akan banyak waktu atau kata yang berlebihan untuk manusia. Segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Allah Tritunggal yang penuh kasih, rahim dan murah hati. Dan aku sadar, seluruh muara devosi Kerahiman Ilahi adalah untuk kemuliaan Tuhan. Yesus Engkau andakanku.
Recent Comments