Pada suatu kesempatan, ketika aku memasuki kapel, aku melihat tembok suatu bangunan dalam keadaan yang memprihatinkan (bacalah catatan kaki bernomor 204); jendela-jendela tanpa kaca dan pintu-pintu hanya memiliki kusen tanpa daun pintu. Kemudian, aku mendengar kata-kata ini di dalam jiwaku, Di sinilah nanti tempat biara itu. Aku agak kecewa bahwa reruntuhan ini akan menjadi biara • BHF 559
“Di sinilah nanti tempat biara itu.” Saat membaca BHF 559, kesan awalku, “biara di atas reruntuhan”. Bagus juga karena ini indah. Sebab tiba-tiba saya ingat sebuah kalimat indah yang tertulis di atas sebuah kandang Natal tahun 1992 di paroki di kampung, ” Damai di atas reruntuhan”, setelah dua minggu dihantam gempa bumi dahsyat. Rumah kami runtuh, seperti juga rumah orang lain, gereja juga rata tanah, dan kami semua waktu itu tidak berdaya dan kehilangan segalanya. Saya persis sedang mempersiapkan diri untuk masuk biara. Tulisan di kandang Natal “Damai di atas reruntuhan” Berdampingan dengan tulisan Gloria in ex Celcis Deo. Tulisan ini sangat menguatkan aku saat itu, aku pun baru tersadar sungguh hari ini. Ada harapan yang tumbuh dan hidup. Ada keyakinan dan hidup baru. Dan aku akhirnya ambil keputusan, apapun terjadi aku tetap akan pergi. Sebagai anak muda yang dengan semangat menggebu sangat terinspirasi dengan kalimat itu, dan saya tetap memilih masuk biara meski keadaan orang tua sedang susah. Dari Flores ke Pangkalpinang – Bangka.
Tanpa bermaksud menafsir tentang biara itu, dan reaksi Faustina yang sesaat seperti agak kecewa, aku melihat dan merasakan sesuatu yang lain. Saya melihat seperti pengalamanku dulu itu, ada damai di atas reruntuhan. Ada harapan di atas kehancuran jiwa karena dosa. Ada harapan, ada kasih, dan itulah model karya Kerahiman Ilahi. Selalu bawa damai dan harapan. Karya Kerahiman Ilahi yang dimulai dari reruntuhan jiwa yang tidak layak dipandang, jiwa yang hancur, entah dihancurkan atau hancur dengan sendirinya. Suatu kehancuran yang pasti menyimpan luka, ada duka, ada ketakutan bahkan kehilangan harapan. Hancur karena dosa. Tapi Tuhan berkata kepada Faustina bahwa di atas bangunan yang memprihatinkan itu, nanti tempat biara ini.
Bagiku, mungkin sebuah simbol cara kerja dan daya ilahi Kerahiman Ilahi. Sebuah cara kerja Allah yang selalu mulai dari yang kelihatan memprihatinkan, yang kosong, yang tidak sempurna, yang jelek. Saat melihat kehancuran dalam jiwa, Ia berkenan membangunnya kembali. Memulihkan, menyembuhkan, menata, memberi harapan , dan pada saatnya semua jadi indah.
Hari ini saya diingatkan Faustina akan pengalaman Kerahiman Ilahi bagiku di masa silam, sekaligus kepadaku ditunjukkan inilah karya agung ALLAH. Manusia (Faustina dan saya ) melihat reruntuhan , tetapi Allah menetapkan harapan akan bangunan yang indah di mana jiwa-jiwa memuji dan menyembah Allah (biara). Tidak ada hati yang terlalu hancur atau jiwa yang terlalu remuk atau hilang tanpa bekas. Di tangan Allah yang maha rahim dan penuh kebaikan dan kasih, semua dibangun kembali menjadi bangunan indah oleh kerahiman-Nya.
Bagiku, jendela tanpa kaca, pintu tanpa daun, reruntuhan yang memperihatinkan menjadi sebuah simbol panggilan dan undangan Allah untuk masuk dalam rengkuhan kuasa kasih kerahiman-Nya. Aku harus selalu sadar dan mengingatkan diriku bahwa dalam situasi atau tempat atau keadaan jiwa seperti itulah, Allah hadir dan sedang membangun kembali. Yesus Engkau andalanku.
Recent Comments