MINGGU BIASA X, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Ul. 8:2-3,14b-16a; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58.
Hari ini kita merayakan misteri terbesar iman kita: Ekaristi, Tubuh dan Darah Kristus. Yesus sendiri berkata: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.” (Yoh 6:54). Pertanyaannya: mengapa kita harus makan dan minum tubuh dan darah Kristus? Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah pesta iman yang meneguhkan keyakinan kita bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi. Bacaan hari ini menyingkapkan makna roti surgawi yang memberi hidup, mempersatukan umat, dan menjadi tanda kasih Allah yang menyelamatkan.
Untuk mencapai tanah yang dijanjikan oleh Allah, Israel dibawa oleh Tuhan keluar dari perbudakan Mesir dengan cara yang dahsyat. Mereka juga harus melintasi perjalanan panjang selama 40 tahun melalui padang gurun yang luas dan dahsyat, dengan ular-ularnya yang ganas serta kalajengking, dengan tanahnya yang gersang, yang tidak ada airnya. Setelah mengarungi perjalan itu, di seberang sungai Yordan, Musa mengingatkan Israel akan maksud Tuhan: “Maksud Tuhan adalah merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan”. (Ul 8:2-3). Musa mau mengingatkan Israel bahwa mereka sangat bergantung kepada Tuhan, Allah mereka. Allah-lah yang memberikan mereka makanan dan minuman. Melalui Musa, Allah menyadarkan Israel bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan!
Di rumah ibadat, di Kapernaum dengan tegas Yesus menyatakan diri-Nya sebagai ROTI HIDUP: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6:51). Orang Yahudi bertengkar di antara mereka. Sebab mereka tidak dapat menerima pernyataan Yesus itu. Mengapa demikian? Orang-orang Yahudi sulit menerima pemberian Yesus yang sesungguhnya. Sebab, mereka menghendaki Yesus memberikan apa yang mereka inginkan, seperti roti atau makanan biasa yang telah diberikan Yesus kepada orang banyak dalam kisah pergandaan roti (Yoh 6:1-14). Pada saat itu Yesus sendiri sudah menegaskan bahwa mereka mencari diri-Nya karena telah makan roti dan kenyang dan bukan karena mereka melihat dan mengerti tanda-tanda, termasuk tanda roti itu (Yoh 6:26). Orang-orang itu tak memahami bahwa pemberian roti kepada orang banyak itu tanda bagi pemberian yang datang dari dalam diri Yesus sendiri, yakni pengorbanan diri-Nya bagi mereka. Dengan cara itu Yesus menegaskan bahwa diri-Nya, bukanlah hanya sekadar roti yang mengenyangkan secara badaniah dan membuat setiap orang melihat diri-Nya sebagai “nabi” (Yoh 6:14) yang patut diangkat menjadi pemimpin, bahkan raja (Yoh 6:15). Yesus menghindari harapan seperti itu. Orang-orang Yahudi berpikir bahwa Yesus itu adalah Musa yang baru (bdk. Yoh 6:30-31), tokoh yang membuat orang menemukan makanan harian atau manna yang diberikan Tuhan sampai mereka memasuki Tanah Terjanji (Kel 16). Melalui penegasan itu Yesus mengajak orang agar melihat bahwa yang memberi makanan dari langit itu ialah Bapa-Nya. Lebih lanjut lagi, sekarang ini diri-Nya-lah roti yang turun dari surga itu. Menerima Dia, mempercayai-Nya, akan membuat setiap orang mendapatkan roti yang memberi hidup kekal (Yoh 6:32-40). Dengan cara itu Yesus menantang kepekaan batin setiap orang yang percaya kepada-Nya: menerima diri-Nya berarti hidup selama-lamanya oleh diri-Nya atau menolak-Nya berarti binasa selama-lamanya!
Melalui surat kepada jemaat di Korintus, Paulus mengintatkan kita sebagai orang beriman bahwa piala syukur yang kita berkati merupakan persekutuan dengan darah Kristus, dan roti yang kita bagi-bagi merupakan persekutuan dengan tubuh Kristus. Penegasan Paulus tersebut menyadarkan kembali kita bahwa KOMUNI KUDUS yang kita sambut dalam setiap perayaan Ekaristi harus menjadi DASAR, SUMBER, ARAH, dan TUJUAN/PUNCAK bagi kehidupan beriman kita, yaitu membangun dan mewujudkan persekutuan/komunio jemaat sebagai Tubuh Kristus dalam kesatuan Allah Tritunggal Mahakudus.
Apakah aku sungguh percaya dan mengalami bahwa Kristus sungguh hadir di dalam setiap perayaan Ekaristi? Sejauh mana Ekaristi Tubuh dan Darah Kristus menjadi sumber dan puncak bagi seluruh diri dan hidupku? Apa saja buah-buah Ekaristi yang selalu saya timba dari setiap Perayaan Ekaristi? Bagaimana buah-buah Ekaristi itu telah aku tumbuh kembangkan di dalam setiap peristiwa hidupku?
Hari Raya “Corpus Christi” mengingatkan kita sebagai orang beriman secara jelas tegas: Mengapa kita harus makan dan minum tubuh dan darah Kristus? Pertama , karena ini adalah perintah Yesus sendiri. Pada Perjamuan Terakhir Ia berkata: “Ambillah, makanlah… minumlah…”. Ekaristi bukan sekadar simbol, melainkan tindakan nyata yang mengikat kita pada Kristus. Kedua , karena Ekaristi adalah sumber hidup kekal. Dengan makan tubuh-Nya kita menerima kekuatan rohani, dengan minum darah-Nya kita menerima hidup ilahi. Ketiga , karena Ekaristi mempersatukan kita. Paulus menegaskan: “Karena roti itu satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh.” (1Kor 10:17). Komuni Kudus menjadikan kita satu tubuh dalam Kristus, satu keluarga Allah. Keempat , karena Ekaristi adalah perjanjian baru. Darah Kristus dicurahkan untuk meneguhkan perjanjian kasih Allah yang kekal bagi kita.
Dengan demikian, Ekaristi adalah pusat iman kita, sumber kekuatan kita, dan tanda kasih Allah yang menyelamatkan. Maka marilah kita mendekati altar dengan hati penuh syukur, sebab dalam setiap Ekaristi kita sungguh mengalami janji Yesus: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.” (Yoh 6:54).
Hari Raya Corpus Christi mengingatkan kita bahwa Ekaristi adalah pusat hidup Gereja: roti hidup yang memelihara, mempersatukan, dan menyelamatkan. Mari kita sambut Kristus dengan iman yang teguh, dan jadikan hidup kita roti yang dipecah bagi sesama.
Mari selalu menimba daya hidup dan keselamatan kita dari sumber dan puncak kehidupan kita, Tubuh dan Darah Kristus dari Ekaristi Kudus!
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments