Kamis. Aku merasa terdorong untuk secepat mungkin bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sementara melakukan pengakuan dosa, aku mempertahankan pendapatku sendiri atas pendapat bapak pengakuan. Mula-mula aku tidak menyadari hal ini, tetapi ketika aku malaksanakan Jam Kudus. aku melihat Tuhan Yesus sebagaimana Ia menampakkan diri dalam Gambar itu. Ia memberitahukan kepadaku bahwa aku harus mengulangi kepada bapak pengakuan dan superiorku segala sesuatu yang Ia katakan kepadaku atau Ia minta dariku …. dan lakulanlah hanya apa yang diizinkan untuk engkau lakukan.

Dan, Tuhan Yesus membuatku memahami betapa kecewa Ia dengan orang-orang yang memaksakan kehendak sendiri, dan aku sadar bahwa akulah salah satunya. Aku melihat bayangan kehendakku sendiri itu di dalam diriku, dan aku menghempaskan diri ke dalam debu di hadapan keagungan-Nya dan dengan hati yang remuk redam aku memohon pengampunan-Nya. Tetapi, Yesus tidak membiarkan aku tetap dalam keadaan ini untuk waktu yang lama. Tatapan ilahi-Nya memenuhi hatiku dengan sukacita yang sedemikian besar sehingga aku tidak mempunyai kata-kata untuk mengungkapkannya. Dan, Yesus memberitahukan kepadaku agar aku menyampaikan lebih banyak pertanyaan kepada-Nya dan meminta nasihat-Nya. Sungguh, begitu manisnya tatapan Tuhanku; mata-Nya menembus jiwaku sampai relung-relungnya yang paling tersembunyi. Rohku berkomunikasi dengan Tuhan tanpa sepatah kata pun yang terucap. Aku sadar bahwa Ia tinggal di dalam aku dan aku di dalam Dia.• BHF 560

Tuhan Yesus membuatku memahami betapa kecewa Ia dengan orang-orang yang memaksakan kehendak sendiri, dan aku sadar bahwa akulah salah satunya.” Aku tertegun membaca dan merenungkan BHF 560 ini. Kemarin Tuhan menunjukkan kepada Faustina sebuah biara yang kelak akan dibangun. Hari ini Faustina merasa ada dorongan yang kuat untuk.secepat mungkin bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Menarik, Faustina mengakui bahwa dalam pengakuan dosa , dia mempertahankan pendapatnya sendiri atas pendapat bapak pengakuan. Kita tahu bahwa di ruang pengakuan, Yesus yang sungguh hadir dalam diri imam. Aku paham, bahwa Faustina sedikit memaksakan kehendaknya di hadapan Tuhan. Sekilas, serasa benar, namun dalam keheningan pada jam kudus, dia sadar akan kekilafannya. Hanya sejauh diizinkan superior dan bapa pengakuan, baru boleh melakikan apa yang dikehendaki Allah.

Sungguh luar biasa, cara Allah bekerja menyatakan kehendak-Nya, masih dalam batas menghormati norma manusia, apalagi Faustina, hanya dalam batas ketaatan. Memang, tahu kehendak Tuhan saja belum cukup. Respon atau cara menanggapi kehendak Tuhan juga harus menurut kehendak-Nya. Seperti Faustina begitu terdorong untuk segera melaksanakan apa yang didengarnya dari Tuhan. Niatnya baik. Namun tanpa disadari, kehendaknya sendiri mulai mengambil tempat.Karena itu Yesus mengingatkannya agar ia mengungkapkan semuanya kepada bapak pengakuan dan superior, lalu “melakukan hanya apa yang diizinkan.” Betapa halus cara Tuhan mendidik jiwa. Ia tidak hanya menghendaki aku melakukan kehendak-Nya, tetapi juga melakukannya dengan cara-Nya, dalam waktu Tuhan dan dalam ketaatan yang rendah hati.

Aku merenung dan menemukan bahwa sering aku berkata bahwa aku sedang mencari kehendak Tuhan, padahal ternyata tanpa kusadari aku sedang memperjuangkan kehendakku sendiri. Niatku mungkin baik, tetapi aku ingin semuanya segera terjadi menurut pemahamanku sendiri. Bahkan tanpa konfirmasi dengan Tuhan. Terburu-buru memang kurang bijaksana.

Menarik bagiku sikap Faustina yang tidak membela dirinya. Ia tidak mengatakan bahwa maksudnya baik. Ia hanya mengakui, “akulah salah satunya.” Apa yang dialami Faustina  aku alami pula. Aku harus berani belajar bahwa kerendahan hati bukan hanya menerima ketika aku berbuat salah, tetapi juga rela membiarkan Tuhan memurnikan kehendakku supaya selaras dengan kehendak Allah.

Kadang bukan karena kesalahan besar, tetapi terlalu terburu-baru dan merasa mendesak, lalu mau segera mewujudkannya. Ketaatan bukan hanya segera atau harus selalu melakukan kehendak Allah, tetapi  juga memberi ruang kepada Allah untuk memurnikan kehendak kita. Yesus, Engkau andalanku.