RABU, PEKAN BIASA, PERINGATAN WAJIB ST. THOMAS AQUINO, IMAM DAN PUJANGGA GEREJA
2Sam. 7:4-17; Mzm. 89:4-5,27-28,29-30; Mrk. 4:1-20.

Hari ini Gereja merayakan St. Thomas Aquinas, seorang imam dan pujangga Gereja yang dikenal sebagai Doctor Angelicus. Ia bukan hanya seorang teolog besar, tetapi juga seorang pencinta kebenaran yang mendalami misteri Allah dengan akal budi dan doa. Bacaan hari ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengetahuan, melainkan relasi yang berakar pada janji Allah dan bertumbuh dalam sabda-Nya.
Daud berencana untuk mendirikan kenisah bagi Allah. Namun, melalui nabi Natan, Allah mengingatkan dan mengarahkan kesadaran Daud pada kasih karunia yang telah diberikan dan akan dinyatakan kepada Daud. Bukan Daud yang mendirikan kenisah bagi Allah tetapi Allah-lah yang akan menyelenggarakan semuanya untuk Daud.

Kepada orang banyak Yesus menyajikan perumpamaan tentang benih yang ditaburkan oleh penabur. Ada benih yang jatuh dipinggir jalan. Ada yang jatuh di tanah berbatu, ada juga yang jatuh di semak berduri, dan ada yang jatuh di tanah yang subur. Melalui perumpaan ini, Yesus mau menegaskan bahwa Allah selalu memberikan kasih karunia-Nya bagaikan benih yang ditaburkan. Tetapi, tumbuh dan berhasilnya benih itu amat tergantung pada penerimaan setiap orang.

Thomas adalah anak kesembilan dari sebuah keluarga bangsawan di Italia. Ia seorang yang amat cerdas, tetapi ia tidak pernah menyombongkan kelebihannya. Ia sangat menyadari bahwa kecerdasan pikirannya itu adalah karunia dari Tuhan. Ia merasa bahwa ia dipanggil untuk bergabung dengan kelompok “Dominikan”. Namun keinginan Thomas ini tidak berkenan di hati kedua orang tuanya.
Ketika ia sedang dalam perjalanan ke Paris untuk belajar, saudara-saudaranya menculiknya. Mereka mengurungnya di salah satu kastil keluarga mereka selama lebih dari satu tahun. Selama masa itu, mereka melakukan segala daya upaya untuk membuat Thomas mengubah pendiriannya. Seorang saudarinya juga datang untuk membujuknya agar melupakan panggilannya. Tetapi Thomas berbicara demikian indahnya tentang sukacita melayani Tuhan, sehingga saudarinya itu mengubah pendapatnya. Saudarinya itu bahkan memutuskan untuk mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan sebagai biarawati. Pada akhirnya Thomas diberi kebebasan untuk memenuhi panggilannya.

St. Thomas menulis demikian indah tentang Tuhan sehingga orang-orang dari seluruh dunia telah mempergunakan tulisan-tulisannya selama beratus-ratus tahun. Penjelasannya tentang Tuhan dan tentang iman berasal dari cintanya yang amat mendalam kepada Tuhan. Ia seorang yang apa adanya sebab ia tidak sedang berusaha untuk membangkitkan kesan kepada siapa pun. Yang ia inginkan dengan segenap hatinya adalah mempersembahkan karunia hidupnya kepada Yesus dan kepada Gereja.
St. Thomas merupakan salah seorang dari Pujangga terbesar yang pernah dimiliki oleh Gereja. Ia bagaikan mutiara dengan sinar yang cemerlang dalam terang Roh Kudus. St. Thomas dinyatakan kudus pada tahun 1323 oleh Paus Paulus II; Paus Pius V memberinya gelar Pujangga Gereja pada tahun 1567; Paus Leo XIII memberinya gelar mahaguru dari segala doktor akademik pada tahun 1879 dan pelindung semua universitas, perguruan tinggi, dan sekolah pada tahun 1880.

Sejauh mana aku telah menyadari kasih karunia yang telah ditaburkan oleh Allah di dalam diriku? Apa saja karunia itu? Bagaimana aku telah menumbuh kembangkannya?
St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa iman dan akal budi tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Bacaan hari ini menegaskan bahwa janji Allah teguh, sabda-Nya harus berakar, dan iman harus berbuah. Mari kita meneladani St. Thomas Aquinas: mencintai kebenaran, mengolah hati sebagai tanah subur, dan menghasilkan buah kasih dalam hidup nyata.
Mari menyadari kasih karunia yang telah ditaburkan oleh Allah di dalam diri kita masing-masing. Mari menumbuh kembangkannya sehingga dapat berbuah melimpah.
Tuhan memberkati. *RD AMT