Dalam salah satu adorasi, Yesus berjanji kepadaku bahwa, Jiwa-jiwa yang meminta pertolongan kepada kerahiman-Ku dan yang memuliakan serta memaklumkan kerahiman-Ku yang besar, pada jam kematiannya mereka akan Kuperlakukan sesuai dengan kerahiman-Ku yang tak terbatas. Hati-Ku sangat sedih, kata Yesus. karena bahkan jiwa-jiwa yang terpilih tidak memahami begitu besarnya kerahiman-Ku. Hubungan mereka dengan-Ku, dalam kadar tertentu, penuh dengan keragu-raguan. Oh, betapa sikap mereka itu nenyatat Hati-Ku! Ingatlah akan sengsara-Ku dan kalau engkau tidak percaya akan kata-kata-Ku, sekurang-kurangnya percayalah akan luka-luka-Ku.

Ingatlah akan sengsara-Ku, dan kalau engkau tidak percaya akan kata-kata-Ku, sekurang-kurangnya percayalah akan luka-luka-Ku.” Aku berhenti lama pada kalimat ini. Sampai di sini, permintaan Yesus sebenarnya sangat sederhana. Namun aku merasakan ada sesuatu yang dalam di baliknya. Seolah Yesus sedang berbicara dari hati yang terluka karena keragu-raguan manusia, termasuk keragu-raguanku sendiri.

Aku menyadari bahwa dalam relasiku dengan Tuhan, kebimbangan itu kadang hadir. Bukan karena Tuhan kurang memberi tanda, tetapi karena aku sendiri sering tidak sungguh-sungguh percaya. Banyak hal sudah Tuhan nyatakan lewat derita, sengsara dan luka-luka-Nya, tetapi sebagai manusia lemah yang berdosa, aku kadang tanpa sadar, mudah menganggapnya biasa saja, menjalani iman tanpa perjuangan yang sungguh-sungguh, dan lupa betapa besar kasih dan pengorbanan yang telah Ia berikan padaku dan dunia.

Hari ini, melalui Faustina Yesus mengajakku untuk kembali mengingat sengsara-Nya, bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai bukti kasih yang nyata. Hari ini, dan tiap-tiap hari yang perlu selalu kubaharui. Bukan jg sekedar ingat sengsara-Nya tapi menghayati sengsara-Nya. Jika aku masih sulit percaya dengan kata-kata, luka-luka-Nya sudah cukup berbicara.  Aku ingin belajar menanggapi kasih itu dengan iman yang lebih jujur dan setia, meski perlahan-lahan. Yesus, Engkau andalanku. * hm