Pernah, ketika aku sedang berbicara dengan pembimbing rohaniku, aku mendapat suatu penglihatan batin – yang lebih cepat daripada kilat – aku melihat jiwanya berada dalam penderitaan yang berat, seolah-olah dalam sakratulmaut. Tidak banyak jiwa disambar Allah dengan api itu. Penderitaan itu muncul dari karya ini. Akan tiba saatnya. karya yang sangat dituntut oleh Allah ini akan terasa sungguh-sungguh hancur total. Dan kemudian, Allah akan bertindak dengan kekuatan yang besar, yang akan membuktikan karya ini sungguh-sungguh karya-Nya Karya ini akan menjadi suatu semarak baru bagi Gereja, meskipun sudah lama sekali karya ini dimilikinya. Bahwa Allah itu maha rahim, tak seorang pun dapat menyangkalnya. Tetapi, Ia menginginkan agar setiap orang mengetahuinya hal ini sebelum Ia datang kembali sebagai Hakim. Ia ingin jiwa-jiwa mengenal Dia pertama-tama sebagai Raja Kerahiman. Apabila kemenangan ini tib, kita sudah akan memasuki kehidupan baru, tempat tidak akan ada lagi penderitaan. Tetapi, sebelum ini terjadi, jiwamu (=jiwa pembimbing rohaniku) akan kenyang dengan kepahitan , yakni waktu menyaksikan kehancuran usaha-usahamu. Tetapi, kehancuran ini hanyalah semu sebab apa yang sudah diputuskan Allah tidak akan Ia ubah. Memang, kehancuran ini akan semu tetapi penderitaan itu akan sungguh nyata. Kapan semua ini akan terjadi? Aku tidak tahu. Berapa lama akan berlangsung? Aku tidak tahu. Tetapi, Allah telah nenjanjikan rahmat yang besar, khususnya kepadamu dan kepada semua orang yang akan memaklumkan kerahiman-Ku yang besar. Pada jam kematian, Aku sendiri akan melindungi mereka sebagai kemuliaan-Ku sendiri. Dan, kalaupun dosa-dosa suatu jiwa tampak hitam seperti malam kelam, apabila pendosa itu berpaling kepada kerahiman-Ku, ia akan mempersembahkan pujian yang paling besar kepada-Ku, dan ia merupakan mahkota kemuliaan untuk sengsara-Ku. Apabila suatu jiwa memuji kebaikan-Ku, setan akan gemetar di hadapannya dan melarikandiri ke dasar neraka yang paling dalam. [BHF 378
Ada kalimat hari ini yang membuatku berhenti dan diam: “Kehancuran ini hanyalah semu, tetapi penderitaan itu akan sungguh nyata.” Aku belajar bahwa dalam karya Tuhan, ada saat-saat ketika sesuatu yang diperjuangkan tampak runtuh, seolah tidak tersisa apa-apa. Namun bukan berarti Allah meninggalkan. Justru di saat seperti itu, Allah sedang menyiapkan saat-Nya untuk bertindak, agar terbukti bahwa semuanya sungguh karya-Nya.
Faustina melihat betapa berat penderitaan pembimbing rohaninya: menyaksikan kehancuran usaha-usaha yang dijalani dengan setia, menerima penolakan, bahkan dari dalam Gereja sendiri. Penderitaan itu nyata, tetapi Yesus menegaskan bahwa apa yang sudah diputuskan Allah tidak akan Ia ubah. Kehancuran itu hanya tampak di luar. Allah sesungguhnya sedang bekerja di dalamnya.
Yang sangat menyentuh hatiku ketika Yesus berkata: “Pada jam kematian, Aku sendiri akan melindungi mereka sebagai kemuliaan-Ku sendiri.” Ada penghiburan yang dalam di sini. Yesus tidak hanya menjanjikan pengampunan, tetapi juga kehadiran dan perlindungan-Nya sendiri, terutama pada saat manusia paling rapuh. Kapan saat paling rapuh? Bagiku, saat aku tak berdaya , saat dikuasai dosa, saat tidak tahu ke mana harus berlansung, saat ragu, malu untuk kembali kepada Tuhan. Saya saya sadar kedosaan saya, dikungkung rasa bersalah, tak berani datang kepada Tuhan. Saya yakin, saat itulah begitu kuatnya perlindungan Tuhan agar saya tidak tenggelam dan putus asa,tapi berpaling kepada Tuhan yang maha rahim yang siap mengulurkan tangan, merangkul dan menarik aku kembali. Bagiku, ini sangat indah. Maka sebesar apa pun dosa, selama masih bernapas, aku selalu masih punya kesempatan untuk kembali, dengan andalkan kerahiman-Nya. Saya percaya, Tuhan tidak hitung dosaku di masa lalu, tidak timbang seberapa banyak, tetapi saat aku kembali, itu sudah cukup bagi Tuhan.Dan inilah misteri KErahiman Ilahi yang tak terselami.
Yang lebih menguatkanku lagi: sekalipun dosa-dosa suatu jiwa tampak hitam seperti malam kelam, ketika jiwa itu berpaling kepada kerahiman Tuhan, ia justru mempersembahkan pujian yang paling besar kepada-Nya dan menjadi mahkota kemuliaan bagi sengsara Kristus. Ini mengubah caraku memandang dosa, baik dosaku sendiri maupun dosa dunia, cara bagaimana aku menyesal, berharap, berpaling, dan bersyukur.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri: jiwa siapa yang tampak hitam seperti malam kelam itu?
Pertama-tama, jiwaku sendiri. Sampai hari ini aku tidak sungguh memahami kebijaksanaan kasih Ilahi terhadap semua jiwa. Aku tidak berani mengklaim diriku “baik-baik saja” hanya karena ada banyak hal baik yang kulakukan, sebab orang yang tidak mengenal Allah pun dapat berbuat baik. Yang menyelamatkan adalah iman. Selama aku hidup, aku juga tidak berani memastikan apa pun tentang diriku selain mengandalkan kerahiman-Nya. Sebab jika bukan karena Tuhan yang menopang, menolong, dan melindungi, sedikit pun aku tidak berdaya. Maka aku percaya, sekalipun dosaku tampak hitam kelam, bila aku berpaling kepada Allah dengan iman, harapan, dan kasih, kerahiman itu akan tetap berkarya dalam diriku.
Dan kalimat terakhir ini sungguh kuat bagiku: ketika sebuah jiwa memuji kebaikan Tuhan, setan gemetar dan melarikan diri. Maka hari ini aku belajar untuk tetap memuji kebaikan Tuhan, bukan karena aku merasa layak, tetapi karena aku percaya pada kerahiman-Nya. Tuhan sungguh amat sangat baik.Kasih, kebaikan dan kerahiman_Nya inilah yang mesti aku terus belajar menghidupi, mewartakan, supaya jiwa-jiwa yang belum mengenal kasih Allah, atau mengabaikan kasih-Nya sadar lalu bergegas menuju Allah. Yesus, Engkau andalanku. *hm
Recent Comments