Kasih sedang membanjiri jiwaku, aku tercebur dalam samudra kasih. Aku serasa jatuh pingsan dan sama sekali menghilang di dalam Dia.
BHF 513
Membaca dan merenungkan BHF 513 ini, saya merasa Faustina sedang mengalami suatu persatuan rohani yang sangat dalam dengan Allah. Bukan lagi tentang berdoa, memohon, atau berbicara kepada Tuhan, tetapi sungguh hidup di dalam Tuhan dan tenggelam dalam kehadiran kasih-Nya. Jiwa Faustina tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri, tetapi seluruh keberadaannya tenggelam, larut di dalam Allah dan kepenuhan kelimpahan kasih-Nya.
Karena itu Faustina menulis, “Kasih sedang membanjiri jiwaku.” Ini bukan hanya soal perasaan haru atau emosi sesaat, tetapi pengalaman rohani yang begitu nyata akan kasih Allah yang memenuhi seluruh jiwanya. Ia sungguh mengalami bahwa Allah itu kasih, dan kasih itu sedang melingkupi, memenuhi, dan meresapi dirinya. Kasih Allah yang tak terbatas, tak terselami, tak terkatakan, yang hanya dialami, dirasakan dan membawa sukacita sejati.
Ungkapan “aku tercebur dalam samudra kasih” terasa sangat indah bagiku. Samudra itu luas, dalam, tanpa batas. Faustina sepertinya tidak hanya berdiri di tepi atau memandang dari jauh, seperti kebanyakan orang tetapi tercebur masuk ke dalam kasih Allah itu sendiri. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kasih Tuhan dengan penuh iman. Ia tetap mengandalkan Allah Sang Kasih . Betapa indahnya jiwa yang tidak lagi takut masuk semakin dalam ke dalam misteri kasih Allah.
Faustina berkata, “Aku serasa jatuh pingsan dan sama sekali menghilang di dalam Dia.” Bagiku ini menggambarkan penyerahan diri yang total. Seolah-olah dirinya, kehendaknya, pikirannya, egonya, semuanya lenyap karena dipenuhi Allah dengan kelimpahan kasih-Nya. Yang tinggal hanyalah Allah sendiri. Betapa besar kasih yang dialaminya sampai ia merasa “hilang” di dalam Tuhan.
Merenungkan pengalaman Faustina ini, saya merasa bahwa memang sukacita dan kepenuhan sejati tidak berasal dari hal-hal duniawi. Juga bukan sekadar usaha manusiawi. Tapi anugerah bagi Faustina. Hatinya, seluruh dirinya sungguh menyenangkan hati Tuhan. Tuhan bersukacita karena ketaatan, kasih dan kerendahan hati Faustina sebagaimana kita renungkan kemarin. Tuhan juga menyatakan sukacita-Nya sehingga Faustina juga mengalami sukacita karena dibanjiri cinta Allah.
Sukacita terdalam jiwa adalah ketika sungguh mengalami kasih Allah dan hidup di dalam-Nya. Dunia bisa memberi banyak kesenangan, tetapi tidak semuanya memberi kedamaian dan kepenuhan batin. Penderitaan boleh mendera jiwa sampai nyaris menyerah. Namun, hanya Allah yang mampu memenuhi jiwa manusia secara utuh. Dengan cinta yang melampaui derita dsn kesenangan dunia. Indah! Kadang saya bertanya dalam hati, sudahkah aku sungguh memberi ruang bagi Allah untuk membanjiri jiwaku dengan cinta dan rahmat?? Atau jangan-jangan hatiku masih terlalu penuh oleh diriku sendiri, kekhawatiran, kesibukan, dan begitu banyak hal lain?
Faustina mengajarkan bahwa jiwa yang membiarkan dirinya tenggelam dalam kasih Allah akan mengalami sukacita yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Aku harus mengakui, tampaknya aku masih berdiri di pinggir samudera cinta itu. Mau masuk, atau ditarik ke dalam samudera cinta Allah, syarat ya kasih kerendahan hati. Terima kasih Faustina, lewat pengalamanmu aku diingatkan kembali bahwa tujuan akhir hidup rohani bukan hanya banyak berbuat, tetapi terutama hidup bersatu mesra dengan Tuhan dslam samudera kasihNya. Meski masih seperti jiwa berdiri di pantai samudera yang luas, yang ingin mencebur di dalamnya tapi ragu-ragu ,aku tetap percaya, aroma kasih yang tercium, dan pandangan mata menyaksikan keindahan cinta-Mu, sudah lebih dari cukup untukku.
Entah di pinggir, atau tenggelam , entah di luar atau di dalam, masih jauh atau dekat, aku tetap akan percaya dan berseru dengan penuh keyakinan. Yesus Engkau andalanku. Kasih-Mu tak pernah berkurang untukku, selalu melingkupi aku sesuai kebijaksaan kasih-Mu. Terima kasih, Faustina atas pengalaman cinta mistik-Mu yang selalu menginspirasiku.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments