Apabila suatu keengganan dan kebosanan dalam kaitan dengan tugas-tugasku mulai menguasai diriku, aku mengingatkan diriku bahwa aku berada di dalam rumah Tuhan; di sana tidak ada suatu pun yang kecil dan di sana kemuliaan Gereja serta kemajuan banyak jiwa tergantung pada perbuatanku yang kecil, yang sudah disempurnakan dan diilahikan. Oleh karena itu, dalam kongregasi hidup membiara tidak ada suatu pun yang kecil. BHF 508
“Kemajuan banyak jiwa tergantung pada perbuatanku yang kecil, yang sudah disempurnakan dan diilahikan.” Benar adanya pernyataan Faustina ini. Ia tidak pernah menyangkal realitas hidup manusiawi yang rapuh, yang mudah terjerat kejenuhan dan kebosanan oleh rutinitas dan banyak hal yang bukan keinginan kita tetapi harus kita lakukan. Faustina tahu betul suka duka hidupnya, dan menariknya, ia juga tahu bagaimana mengatasi tantangan-tantangan kecil dalam jalan hidupnya.
“Aku mengingatkan diriku…” Wah… indah sekali pernyataan ini. Di manakah dia berada? Di dalam rumah Tuhan. Untuk siapa dia melakukan semuanya, dan untuk apa? Untuk kemuliaan Tuhan dan kemajuan jiwa-jiwa. Perbuatan kecil dan sederhana yang tak terlihat dan membosankan, yang rutin bahkan mungkin tak diperhitungkan orang, kalau tidak dilihat maknanya secara imani bisa menjadi beban bahkan ditinggalkan. Orang jadi lebih mudah mencari hal-hal yang menimbulkan decak kagum, dipuji, populer, dan dianggap hebat. Tetapi apakah semua itu sungguh mendatangkan kemajuan bagi jiwa-jiwa yang dipercayakan kepada kita?
Saya tak membayangkan bagaimana jadinya seorang anak dalam keluarga jika ibunya enggan merawat, mengasuh, dan mengurus kebutuhannya. Saya juga tak dapat membayangkan jika seorang ayah tidak mau bekerja keras demi keluarganya. Atau bagaimana jadinya jika guru di sekolah bosan dan tidak peduli pada murid-muridnya, apalagi anak-anak usia PAUD dan sekolah dasar yang masih sangat membutuhkan perhatian dan pendampingan. Adakah kemajuan pada mereka?
Sungguh, dalam banyak hal, kemajuan jiwa dan kesejahteraan lahir batin banyak orang yang dipercayakan kepada kita sangat bergantung pada perbuatan-perbuatan kecil dan besar yang kita lakukan: perkataan baik, teladan hidup, kesaksian, perhatian sederhana, bahkan doa-doa yang tiada putus kita persembahkan kepada Tuhan bagi mereka.
BHF 508 ini sungguh menyegarkan ingatanku dan menjamah batinku agar tetap setia berjuang. Persis saat ini saya sedang lelah dan capai menghadapi banyak perjuangan mendampingi anak-anak di kampung dan pulau-pulau yang serba terbatas, yang harus dibantu hampir dalam segala hal. Bahkan sesudah ditolong pun, kadang mereka masih enggan menolong dirinya sendiri. Kalau bukan karena mengingat bahwa semua ini adalah perutusan dari Tuhan dan bahwa dalam diri mereka Tuhan Yesus yang menderita hadir secara nyata, mungkin saya sudah menyerah karena lelah. Kalau kebosanan mulai menguasai hati, orang bisa menjadi enggan bertindak, masa bodoh, dan akhirnya membiarkan. Mau jadi apa anak-anak itu nanti?
Hari ini saya sedang beristirahat, tetapi justru dapat membuat dua renungan yang bagiku sangat tepat menjawab situasiku: aku ini milik Tuhan (BHF 507) dan tidak ada sesuatu pun yang kecil (BHF 508). Semua keputusan yang kubuat untuk mereka dan untuk karya-karya kami, semoga sungguh demi kemajuan dan kesejahteraan jiwa serta raga mereka. Renungan BHF ini membangkitkan semangatku untuk memulai lagi dan terus berjuang. Bertepatan pula dengan hari-hari novena Roh Kudus, semoga hati, budi, jiwa, dan rohku dibaharui.
Hari ini aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku milik Tuhan, bahwa Tuhan selalu bersamaku, bahwa karya-karya ini adalah karya Tuhan. Bahwa Tuhan selalu melakukan karya-Nya yang besar dan akan menyelesaikan semuanya bagiku. Dan yang paling indah, aku diteguhkan oleh Faustina:
“Dalam kongregasi hidup membiara, tidak ada sesuatu pun yang kecil.” Terima kasih, Faustina.
Dan tentu saja, bukan hanya dalam hidup membiara, tetapi juga dalam keluarga, komunitas, sekolah, karya pelayanan, dan dalam hidup sehari-hari: tidak ada sesuatu pun yang kecil. Perbuatan boleh kecil dan sederhana, tetapi cinta harus besar yakni cinta kepada Allah dan kepada jiwa-jiwa, sebab di situlah sumber sukacita sejati.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments