Pada kesempatan tertentu, TUhan berkata kepadaku, “Hati-Ku jauh lebih terluka karena ketidaksempurnaan kecil dari jiwa-jiwa terpilih daripada karena dosa orang-orang yang hidup di dunia.” Hatiku sangat sedih karena jiwa-jiwa yang terpilih telah menyebabkan Yesus menderita dan Yesus ebrkata kepadaku, “Ketidaksempurnaan kecil ini bukanlah segala-galanya. Aku akan menyatakan kepadamu suatu rahasia hati-KU; apa yang Kuderita karena perbuatan jiwa-jiwa terpilih.Sikap tidak tahu terima kasih sebagai balasan atas begitu banyak rahmat adalah makanan lestari hati-Ku, kalau itu dilakukan oleh suatu jiwa yang terpilih. Kasih  mereka suam-suam kuku, dan hatik-Ku tidak dapat menahannya; jiwa -jiwa ini memaksa Aku menolaknya. Ada juga jiwa-jiwa terpilih yang tidak percaya akan kebaikan-Ku dan tidak ingin mengalami kemesraan yang membahagiakan dalam hati mereka sendiri, tetapi pergi jauh mencari Aku dan tidak menemukan Aku. Ketidakpercayaan kepada kebaikan-Ku ini, amat sangat melukai Hati-Ku.Kalau kematian-KU tidak dapat meyakinkan engkau tentang besarnya kasih-Ku, dengan apa lagi Aku akan meyakinkan engkau?  Sering suatu jiwa melukai Aku setengah mati, dan tidak seorang pun dapat menghibur Aku.( BHF 580)

Membaca dan merenungkan rahasia Hati Tuhan yang diungkapkan kepada Faustina, aku tidak dapat menahan rasa haru. Keluhan kasih ini diuraikan dengan begitu mendalam. Jiwa yang tidak percaya, jiwa yang tidak tahu berterima kasih, jiwa yang meremehkan rahmat Allah, jiwa yang melukai Hati Tuhan dengan begitu dalam. Inilah rahasia Hati Tuhan yang menderita karena cinta-Nya ditolak oleh perbuatan jiwa-jiwa yang dipilih-Nya.

Aku seolah melihat kembali penderitaan Tuhanku di kayu salib. Tak sanggup aku memandang Dia yang tertikam karena dosa-dosaku. Siapa yang berani mengangkat kepala, meski hanya sejenak? Jiwa mana yang tidak termasuk di dalamnya? Setiap kata yang ditulis Faustina tentang rahasia Hati Tuhan membelai sekaligus mengguncang hatiku. Aku hanya sanggup merunduk dan berbisik, “Tuhanku dan Allahku, ampunilah aku, orang berdosa ini.” Akulah yang sering tidak mampu menangkap kasih-Mu yang begitu dalam, begitu mesra, begitu indah. Kasih yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Andai sedikit saja aku lebih sungguh memahami kasih-Mu, tentu aku tidak akan begitu mudah menyia-nyiakan rahmat-Mu.

Namun di tengah kesedihan itu, hatiku juga diteguhkan oleh ungkapan Yesus yang begitu menyejukkan, “Ketidaksempurnaan kecil ini bukanlah segala-galanya.” Aku mulai menangkap bahwa bukan pertama-tama kelemahanku yang membuat Hati-Nya berdukacita. Bukankah sejak awal Dia sudah mengetahui bahwa aku ini pendosa? Yang lebih melukai Hati-Nya ialah ketika aku tidak tahu berterima kasih, dan terutama ketika aku tidak percaya akan kebaikan-Nya. Ketika aku tidak mau mengalami kemesraan bersama-Nya dalam hatiku sendiri, tetapi justru pergi jauh mencari-Nya ke tempat lain dan akhirnya tidak menemukan-Nya.

Ya Tuhan… itukah kebodohanku? Benar. Terlalu banyak waktu berlalu tanpa syukur yang sungguh lahir dari hati dan berbuah dalam tindakan. Terlalu sering aku mengagumi kebaikan-Mu, tetapi belum sungguh percaya kepada kebaikan-Mu. Aku masih ragu-ragu, masih mengandalkan diriku sendiri, lalu lupa mengandalkan Engkau. Padahal, untuk siapakah Engkau datang kalau bukan untuk menyelamatkan orang berdosa?

Aku sungguh malu membaca BHF 580 ini. Namun kepada siapa lagi aku harus berpaling kalau bukan kepada Tuhanku yang Mahabaik dan penuh kasih? Justru karena aku sadar akan kelemahanku, aku ingin semakin datang kepada-Mu, bersujud di hadapan-Mu, bersyukur, berterima kasih, dan mempercayakan seluruh hidupku kepada-Mu.

Yesus, terima kasih telah berkenan menyingkapkan rahasia cinta-Mu. Aku percaya akan kasih dan kebaikan-Mu. Aku percaya, tolonglah aku yang kurang percaya ini.Jangan biarkan aku melukai Hati-Mu karena sikap tidak tahu terima kasih dan bersyukur. Ajarilah aku hidup dalam syukur, percaya penuh kepada-Mu, dan tidak perlu mencari-Mu jauh-jauh, sebab Engkau telah lebih dahulu tinggal di dalam hatiku, menantiku untuk mencintai-Mu. Yesus, Engkau andalanku