Aku merasa Allah akan mengizinkan aku menyingkirkan selubung sehingga bumi tidak akan meragukan kebaikan Allah. Allah tidak tunduk kepada gerhana dan perubahan musim. Ia selalu satu dan sama; tidak ada suatu pun yang dapat menentang kehendak-Nya. Aku merasakan dalam diriku suatu kekuatan yang lebih besar dari kekuatan manusia. Berkat rahmat yang ada dalam diriku, aku merasakan keberanian dan kekuatan yang tinggal dalam diriku. Aku memahami jiwa-jiwa yang menderita karena kehilangan harapan, karena aku sendiri telah mengalami api itu. Tetapi, Allah tidak akan memberikan [sesuatu kepada kita] melampaui kekuatan kita. Sudah sering aku hidup dengan harapan yang bertentangan dengan harapan dan telah mengembangkan harapanku menjadi keyakinanku penuh kepada Allah. Biarlah apa yang telah Ia tetapkan sejak awal mula terjadi padaku.
[BHF 386 )

Alinea ketiga dan keempat dari BHF hari ini sangat menyentuh hatiku. Faustina menulis bahwa ia memahami jiwa-jiwa yang menderita karena kehilangan harapan, sebab ia sendiri telah mengalaminya. Kata-kata ini terasa sangat nyata bagiku. Faustina tidak berbicara dari kejauhan sebagai pengamat, tetapi dari pengalaman pergumulan yang sungguh dialami sendiri dalam penderitaan dan kesukaran sehari-hari demi kasih kepada Allah dan jiwa-jiwa.

Karena ia telah mengalami sendiri, Faustina sungguh memahami jiwa-jiwa yang berada di ambang putus asa. Namun yang paling menguatkanku adalah keyakinannya yang teguh bahwa Allah tidak pernah meninggalkan jiwa-jiwa yang sedang berjuang. Betapa pun besar penderitaan dan betapa malangnya keadaan manusia, Allah tidak akan memberikan sesuatu yang melampaui kekuatan kita. Justru dalam keadaan jiwa kehilangan harapan, Allah begitu dekat, siap merangkul dan mendekap. Dan jika kita telah menjadi lebih kuat dalam pengharpan, itu bukan karena kita mampu berbuat apa-apa, melainkan karena kasih karunia dan berkat Allah yang menopang kita. Dan berkat yang paling nyata adalah penyertaan Allah sendiri. Seperti Faustina, aku, kita dan jiwa-jiwa sudah selalu mengalaminya selama ini.

Faustina percaya bahwa Allah berkarya dalam setiap pergumulan hidup. Ketika manusia merasa akan menyerah, kehilangan harapan, dan jatuh dalam keputusasaan, Allah justru hadir menopang dengan belas kasih-Nya. Dari sanalah Faustina memperoleh kekuatan dan keberanian yang luar biasa—bukan kekuatan manusiawi, melainkan kekuatan yang berasal dari Allah—untuk menjadi saksi pengharapan bagi jiwa-jiwa yang sedang bergumul.

Maka bagiku, sungguh amat disayangkan bila seseorang begitu mudah menyerah atau putus asa. Sebab Allah sama sekali tidak menghendaki demikian. Allah menghendaki agar pada saat-saat bergumul, jiwa-jiwa segera berlari kepada-Nya, berseru kepada-Nya, merebahkan diri di bawah kaki-Nya, dan mengandalkan Dia semata-mata. Faustina mengakui dengan penuh iman bahwa tidak ada satu pun di muka bumi ini yang dapat menentang kehendak Allah. Seluruh dunia, bumi dan segala isinya, cakrawala dan seluruh jagat raya, ada dalam kuasa dan kendali-Nya.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa manusia begitu mudah kehilangan harapan?
Barangkali karena jiwa-jiwa belum sungguh mengenal Allah dan sifat-sifat ilahi-Nya: adil, penuh kasih, maharahim, dan murah hati. Tanpa pengenalan yang sejati akan Allah, iman menjadi rapuh, harapan mudah goyah, dan kasih kehilangan daya.

Aku bergumam dengan doa sederhana dari hatiku: semoga selubung yang menutup mataku untuk melihat dan memandang Allah tersingkap, sehingga aku semakin mengenal dan mengasihi Allahku. Sekolah Kehidupan Rohani (SKR) ini aku yakini sebagai salah satu jalan yang Tuhan berikan kepadaku untuk semakin mengenal Allah yang maharahim dan segala karya kerahiman-Nya melalui St. Faustina. Melalui SKR ini, sedikit demi sedikit, selubung ketidakmengertianku akan hidup rohani mulai disingkapkan.

Dalam kejernihan hati dan budinya, serta dalam kedalaman pengenalannya akan Allah, Faustina sampai pada penyerahan diri yang total yakni “Biarlah apa yang telah Ia tetapkan sejak awal mula terjadi padaku.”
Bagiku, ini bukan doa pasrah tanpa harapan, melainkan doa yang lahir dari iman yang matang, penuh keberanian, dan sarat kasih, yang merupakan tanda nyata bahwa ia sungguh mengandalkan Allah, selalu dan selamanya.

Hari ini aku belajar satu hal yang sederhana namun mendasar yakni belajar semakin mengenal Allah, supaya iman, harapan, dan kasihku kepada-Nya terus bertumbuh. Sebab sesungguhnya, Allah saja sudah cukup bagiku—untuk segalanya dan dalam segala hal.
Yesus, Engkau andalanku.*hm